Scroll untuk baca berita
Parlemen

Harga Jagung di Gorontalo Masih Rendah, DPRD Minta Bulog Kendalikan Pasar

×

Harga Jagung di Gorontalo Masih Rendah, DPRD Minta Bulog Kendalikan Pasar

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi II DPRD Gorontalo, Limonu Hippy/Hibata.id
Anggota Komisi II DPRD Gorontalo, Limonu Hippy/Hibata.id

Hibata.id – Komisi II DPRD Provinsi Gorontalo menyoroti belum stabilnya harga jagung di tingkat petani yang masih berada di bawah standar harga pemerintah, yaitu Rp5.500 per kilogram dengan kadar air maksimal 15 persen.

Anggota Komisi II DPRD Gorontalo, Limonu Hippy, menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi tersebut dan mendesak Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk segera turun tangan sebagai pengendali utama dalam pembelian jagung petani.

“Harga sudah ditetapkan pemerintah, tapi kenyataannya di lapangan belum sesuai. Karena itu, kami mendorong Bulog untuk aktif sebagai pembeli utama agar harga tidak dipermainkan tengkulak,” ujar Limonu saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (21/4/2025).

Menurut Limonu, ketidaksesuaian harga di tingkat petani terjadi karena belum adanya kontrol yang kuat di jalur distribusi. Ia menegaskan, jika Bulog mengambil peran strategis, maka stabilitas harga jagung akan lebih terjamin dan petani mendapatkan nilai yang layak dari hasil panen mereka.

Baca Juga:  DPRD Provinsi Dukung Pariwisata Gorontalo Bersinar Tanpa Narkoba di HANI 2025

Selain itu, ia mengingatkan bahwa petani juga memiliki tanggung jawab untuk memenuhi standar kualitas, khususnya terkait kadar air dan kebersihan produk. Pemerintah hanya akan menerapkan harga acuan jika hasil pertanian sesuai dengan ketentuan teknis.

“Kalau kadar air masih tinggi atau jagung belum bersih, tentu tidak bisa menuntut harga penuh. Petani juga harus sadar pentingnya menjaga kualitas,” imbuhnya.

Limonu menegaskan, Komisi II yang membidangi sektor pertanian dan ketahanan pangan akan meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan harga dan distribusi hasil pertanian di daerah.

“Kami akan kawal agar harga tetap adil dan tidak merugikan petani. Jika Bulog hadir sebagai pembeli utama, pedagang lainnya akan ikut menyesuaikan. Usaha tetap berjalan, dan petani bisa berkembang,” pungkas Limonu.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel