Hibata.id – Saat air bah menggulung Dusun Kapali, warga hanya bisa berlari, menyelamatkan nyawa. Rumah-rumah hanyut, ladang lenyap, dan ketakutan kembali menyelimuti dusun kecil di kaki Gunung Hulawa. Tapi di balik derita dan reruntuhan, satu suara bangkit membawa pesan yang tak bisa lagi diabaikan.
Aswad Lihawa, pemuda peduli lingkungan, menyebut dengan lantang bahwa bencananIni bukan sekadar bencana alam. Ia bilang, ini adalah hasil langsung dari kerakusan manusia. Menurutnya, penyebab banjir bandang ini tak bisa dilepaskan dari aktivitas tambang emas ilegal (PETI).
Selain itu, kata Aswad, becana ini juga diakibatkan oleh ulah perusahaan tambang rakus yang telah membongkar perut Gunung Hulawa tanpa ampun. Ekosistem rusak, hutan digunduli, tanah dibongkar, dan limbah tambang dibiarkan mengalir ke sungai.
“Gunung Hulawa bukan lagi gunung, tapi luka terbuka. Mereka gali, keruk, habisi semuanya—lalu tinggalkan warga dengan air bah dan lumpur,” tegas Aswad dalam keterangannya, Jumat (11/04/2025).
Menurut Aswad, sedimentasi sungai akibat limbah tambang telah menumpuk bertahun-tahun. Sungai kehilangan daya tampung. Begitu hujan turun deras, aliran air terhambat, dan yang terjadi adalah ledakan banjir ke arah pemukiman.
“Ketika sungai tak lagi bisa mengalir dengan bebas, air cari jalan sendiri. Dan itu lewat rumah-rumah warga. Inilah wajah nyata bencana ekologis akibat pembiaran,” ucapnya geram.
Banjir bandang di Dusun Kapali hanyalah puncak gunung es dari masalah besar yang selama ini dibungkam dalam narasi-narasi ‘fenomena alam’. Tapi bagi Aswad dan warga, ini bencana buatan manusia, hasil dari pembiaran sistematis dan ketidaktegasan aparat.
Aswad tak hanya menyasar pelaku tambang, tapi juga pemerintah dan aparat penegak hukum yang disebutnya tutup mata dan telinga.
“Berapa kali kami teriak? Berapa kali masyarakat lapor? Tapi tambang terus jalan. PETI masih beroperasi bebas. Hukum hanya galak ke rakyat kecil, tapi tunduk ke pemodal,” katanya dengan nada kecewa.
Ia meminta penutupan tambang ilegal secara total, pemulihan lingkungan Gunung Hulawa, dan penegakan hukum tanpa pandang bulu terhadap pihak-pihak yang selama ini bermain di balik layar.
“Kalau tidak, ini cuma awal dari bencana-bencana selanjutnya. Dan saat itu tiba, darah dan air mata warga akan jadi warisan dari kelalaian para pemimpin kita hari ini.”
Kini, Dusun Kapali tak lagi sekadar lokasi bencana. Ia telah menjelma menjadi simbol perlawanan terhadap keserakahan dan pembiaran. Di tengah puing-puing rumah, suara-suara protes mulai bergema. Dan mungkin, untuk pertama kalinya, publik mulai mendengar bahwa banjir bukan soal hujan semata—tapi soal kekuasaan yang berpihak pada tambang, bukan rakyat.
“Hentikan perusakan. Hentikan pembiaran. Ini bumi kita, bukan ladang untuk ditukar dengan emas kotor,” tutup Aswad.












