Hibata.id – Banjir bandang kembali melanda Desa Libungo, Kecamatan Suwawa Selatan, Bone Bolango setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut, menyebabkan sungai meluap. Puluhan rumah warga terendam, beberapa di antaranya rusak parah. Warga pun semakin cemas karena banjir terjadi hampir setiap hari tanpa adanya solusi nyata dari pemerintah.
Dalam sebuah siaran langsung yang diunggah melalui akun Facebook Agustin Hulopi Pakaya, terlihat jelas dampak banjir yang sangat merusak. Air tidak hanya menggenangi jalan-jalan desa, tetapi juga masuk ke dalam rumah-rumah warga, menyulitkan aktivitas mereka dan mengancam keselamatan barang-barang berharga.
“Desa Libungo, Kecamatan Suwawa Selatan, tiap hari rumah saya diterjang banjir,” keluh Agustin dalam siaran langsung dengan nada penuh keputusasaan.
Agustin juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi jembatan di desa tersebut yang semakin menurun dan tidak lagi mampu menahan derasnya aliran air. Akibat air yang terus meluap, kondisi jembatan sudah sangat rendah. Bahkan banyak material lainnya tidak bisa melewati jembatan tersebut.
“Jebol air sungai, Pak. Jembatannya sudah rendah. Air meluap, kayu-kayu dan material lainnya terbawa arus, tidak bisa melewati kolong jembatan, malah mengarah ke rumah kami,” katanya.
Banjir kali ini berdampak luas, dengan sedikitnya 24 rumah terendam, dua di antaranya mengalami kerusakan parah. “24 rumah terdampak, yang paling parah ada dua rumah, salah satunya milik saya dan anak saya,” tambah seorang warga.
Mereka mengaku sudah berulang kali berupaya menarik perhatian pemerintah untuk mengatasi masalah ini. Bahkan, permohonan bantuan telah disampaikan langsung kepada tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) Bone Bolango. Namun hingga kini, belum ada langkah konkret dari pemerintah.
“Saya pernah mengeluh meminta simpati kepada ibu dan bapak dari Tagana Bone Bolango saat mereka datang. Saya bilang, ‘Bu, Pak, kalau memang belum ada perhatian dari pemerintah kabupaten atau provinsi, kami minta keikhlasan dari kantor, biar hanya semen saja untuk pemagaran rumah kami. Soal batu dan pasir, nanti kami yang tanggung sendiri,’” ungkap salah seorang warga dengan penuh harap.
Namun, permintaan tersebut hingga kini tak kunjung mendapat tanggapan yang jelas, sehingga warga terpaksa berjuang sendiri dalam mengatasi dampak banjir. Upaya normalisasi sungai sempat dilakukan pada Januari lalu, tetapi hasilnya jauh dari harapan.
“Bulan Januari kemarin sempat ada normalisasi, tapi hanya sekitar 100 meter. Hasilnya nihil, Pak. Air tetap meluap, dan sampai sekarang, kami belum menerima bantuan apa pun,” ujar seorang warga lain dengan nada kecewa.
Selain itu, warga juga mengeluhkan banyaknya kunjungan aparat pemerintah yang hanya datang untuk mendokumentasikan situasi tanpa ada tindakan nyata. “Banyak petugas datang, banyak polisi datang. Tapi cuma dipotret, dokumentasi, wawancara saja,” ujar seorang warga dengan nada kesal.
Banjir yang terus berulang setiap tahun semakin memperburuk kehidupan warga Desa Libungo. Mereka mendesak pemerintah segera mengambil kebijakan yang jelas untuk menangani masalah sungai dan jembatan yang menjadi penyebab utama bencana ini.
“Saya ingin tahu, apakah ada kebijakan dari pemerintah untuk menanggulangi masalah sungai ini? Harapan kami sebagai masyarakat biasa, agar jembatan ini mendapat perhatian serius, supaya bisa diperbaiki dan ditinggikan. Banjir ini bukan hanya terjadi sekarang, Pak. Setiap tahun kami menderita. Kami tidak punya tempat pelarian atau pengungsian,” keluh seorang warga.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak pemerintah mengenai langkah konkret untuk mengatasi banjir di Desa Libungo. Warga masih berharap agar kondisi ini segera mendapat perhatian serius dan tindakan nyata sebelum dampaknya semakin meluas.