Oleh: Noldi Katili
Publik Bone Bolango beberapa hari terakhir dibuat riuh oleh kabar tak sedap, diantaranya soal hubungan antara Bupati Ismet Mile dan Wakil Bupati Risman Tolingguhu disebut-sebut memburuk.
Di warung kopi, di grup WhatsApp, bahkan di halaman kantor pemerintahan, isu keretakan itu menjadi bahan obrolan yang tak habis dibahas.
Namun, politik memang gemar bermain dengan simbol. Di tengah gelombang spekulasi itu, sebuah foto beredar dan pelan-pelan membalik narasi.
Dalam acara Pelantikan dan Penyerahan SK PPPK Paruh Waktu Formasi 2025 di Alun-Alun Bone Bolango, Senin (27/10/2025), Ismet dan Risman terlihat berjabat tangan erat di hadapan publik.
Sekilas, hanya gestur formal. Tapi dalam konteks politik, jabat tangan tak pernah sesederhana itu.
Genggaman tangan adalah bahasa yang lebih tua dari kata-kata. Ia bisa berarti perpisahan, bisa pula menandakan rekonsiliasi.
Dalam foto itu, publik melihat dua pemimpin yang diisukan retak justru tampil berdampingan—menunjukkan bahwa politik Bone Bolango masih punya ruang untuk kedewasaan.
Tentu, tidak ada pemerintahan tanpa perbedaan. Bupati dan wakilnya bisa saja berdebat soal prioritas anggaran, arah kebijakan, atau gaya kepemimpinan.
Tapi ukuran sejati seorang pemimpin bukan pada seberapa keras mereka berbeda, melainkan seberapa bijak mereka mengelola perbedaan itu.
Mungkin wajah Risman terlihat tegang di foto itu. Tapi tegang bukan berarti renggang. Bisa jadi, ia sedang menahan lelah usai acara panjang, bukan emosi politik.
Sementara genggaman tangannya bersama Ismet Mile berbicara lebih jujur: bahwa Bone Bolango butuh kerja sama, bukan drama.
Dalam politik lokal yang sering diwarnai gosip, publik kerap lupa bahwa simbol-simbol kecil justru bisa menjadi pesan besar.
Genggaman tangan itu—yang mungkin bagi sebagian orang sepele—bisa jadi adalah pernyataan paling jujur dari dua pemimpin: bahwa perbedaan tak harus berujung perpecahan.
Kita perlu membaca momen itu dengan kepala dingin. Karena di atas segala rumor dan tafsir, yang sesungguhnya dibutuhkan warga Bone Bolango hanyalah kepemimpinan yang solid dan kolaboratif.
Dan mungkin, dalam diamnya genggaman itu, terselip pesan sederhana: “Kami masih satu barisan.”












