Hibata.id – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, sejak Selasa siang hingga sore memicu bencana longsor dan banjir di tiga kecamatan: Taluditi, Wanggarasi, dan Lemito. Akses jalan lumpuh, sejumlah rumah terendam, dan ratusan warga terdampak.
Longsor pertama terjadi di Kecamatan Taluditi, tepat di depan Puskesmas Panca Karsa II. Jalan Trans Taluditi tertimbun material longsor dan sempat tidak bisa dilalui. Selain itu, longsor juga dilaporkan terjadi di Desa Panca Karsa I dan dua titik lainnya di Desa Panca Karsa II, seluruhnya berada di wilayah perkebunan sawit.
Di saat bersamaan, luapan sungai akibat curah hujan tinggi menyebabkan banjir di sejumlah desa. Kecamatan Wanggarasi dan Lemito termasuk wilayah yang terdampak. Desa Tuweya bahkan kembali terendam banjir besar, hanya tiga bulan setelah banjir bandang pada 20 Juni lalu.
Kepala Desa Tuweya, Daud Adam, menyebut buruknya infrastruktur menjadi penyebab utama. “Tanggul yang rusak belum juga diperbaiki. Dari Dirjen sempat turun ke sini, tapi cuma ambil foto. Sampai sekarang belum ada tindakan nyata,” ujar Daud, Selasa malam.
Menurutnya, air mulai naik sekitar pukul 17.30 WITA. “Dalam hitungan jam, ketinggian air sudah lebih dari satu meter. Beberapa warga terpaksa mengungsi,” katanya.
Data Dampak Bencana
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pohuwato mencatat sejumlah titik terdampak:
Longsor:
- Desa Panca Karsa I (1 titik – perkebunan sawit)
- Desa Panca Karsa II (3 titik – termasuk depan PKM Panca Karsa II)
Banjir:
Taluditi:
- Desa Malango – terdampak (dalam pendataan)
- Desa Panca Karsa I – 159 KK / 544 jiwa terdampak
Wanggarasi:
- Desa Tuweya – terdampak
- Desa Bohusami – terdampak
- Desa Bukit Harapan – terdampak
Lemito:
- Desa Lemito – terdampak
Kondisi Terkini
Material longsor di Jalan Trans Taluditi telah dibersihkan menggunakan excavator. Akses jalan kini kembali dibuka untuk kendaraan roda dua dan empat.
Sementara itu, banjir mulai surut pada Rabu pagi. Proses evakuasi dan penanganan dilakukan oleh tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, serta masyarakat setempat.












