Kabar

Emas Diselundupkan via Bandara dan PETI Pohuwato Kian Terorganisir

×

Emas Diselundupkan via Bandara dan PETI Pohuwato Kian Terorganisir

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi PETI Pohuwato dan Peyeludupan Emas/Hibata.id
Ilustrasi PETI Pohuwato dan Peyeludupan Emas/Hibata.id

Hibata.id – Upaya penyelundupan emas seberat sekitar 1 kilogram melalui Bandara Djalaluddin, Gorontalo, bukan sekadar pelanggaran hukum biasa.

Peristiwa ini membuka potret nyata bahwa praktik pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Gorontalo tetap hidup, bahkan semakin cerdik—dan sedikit “kreatif”.

Entah dari PETI mana, Kaleng biskuit biasanya identik dengan suguhan lebaran. Namun kali ini, satu kaleng justru berisi “oleh-oleh” yang jauh lebih mahal—emas batangan.

Petugas Aviation Security (Avsec) Bandara Djalaluddin mencium kejanggalan saat pemeriksaan X-ray pada Sabtu (28/3) sekitar pukul 11.13 WITA.

Kepala Bandara, Joko Harjani, mengatakan isi paket tidak sesuai dengan dokumen yang mencantumkan kue kering.

“Petugas melihat ada ketidaksesuaian antara isi dengan dokumen,” ujarnya.

Kecurigaan itu terbukti, dari lima kaleng biskuit, satu di antaranya menyimpan lima keping emas yang dibungkus plastik dan diselipkan di antara makanan ringan.

Modusnya sederhana, tapi cukup berani—seolah berharap petugas hanya fokus pada rasa manis kue, bukan kilau emas di dalamnya.

Baca Juga:  Ingin Bertemu Lailatul Qadar? Ini Doa yang Dianjurkan Rasulullah

Barang tersebut rencananya akan terbang menggunakan Lion Air JT 793 rute Gorontalo–Makassar–Jakarta. Namun, kali ini “tiket emas” itu gagal lepas landas.

Petugas langsung mengamankan barang bukti dan menyerahkannya ke Satreskrim Polres Gorontalo. Polisi telah memeriksa sedikitnya lima saksi dan mulai menelusuri jaringan di balik pengiriman ini.

Penindakan PETI Pohuwato

Sehari sebelumnya, Jumat (27/3/206), aparat juga menemukan tujuh unit excavator di wilayah DAM Hulawa Atas, Pohuwato—lokasi yang bahkan tidak ramah bagi perjalanan manusia biasa.

Kasat Reskrim Polres Pohuwato, AKP Khoirunnas, menyebut tim harus menempuh perjalanan ekstrem: satu jam naik ojek, lalu berjalan kaki menembus medan berat dan hujan.

“Di lokasi, kami menemukan tujuh excavator yang siap digunakan untuk aktivitas penambangan ilegal,” katanya.

Yang menjadi pertanyaan bukan hanya soal jumlah alat berat, tetapi bagaimana alat-alat itu bisa “naik gunung” ke lokasi terpencil—sementara aparat sendiri harus berjuang keras untuk mencapainya. Excavator jelas bukan jenis kendaraan yang bisa nyasar seperti kambing.

Baca Juga:  Konflik Bank SulutGo dan Wacana Bank Gorontalo: Ini Syarat Resmi Mendirikan Bank

Saat ini, alat berat tersebut telah dipasangi garis polisi. Namun, semuanya masih “parkir manis” di lokasi karena sulitnya evakuasi.

Tapi Main Cerdas

Dua peristiwa ini seperti potongan puzzle yang saling melengkapi. Di hulu, ada alat berat yang siap mengeruk. Di hilir, ada emas yang hampir melayang lewat jalur udara, meski itu bukan serta-merta dari PETI Pohuwato.

Artinya, praktik PETI di Pohuwato tidak lagi berjalan sembarangan. Ada pola, ada alur, dan kemungkinan besar—ada jaringan.

Polisi mengaku telah mengantongi identitas pemilik excavator yang sebelumnya diamankan. Namun belum mengungkapnya ke publik karena proses penyelidikan masih berlangsung.

Sementara itu, modus penyelundupan emas dalam kaleng biskuit memberi sinyal bahwa pelaku kini tidak hanya membuka tabir bekingan kekuatan, tetapi juga kecerdikan akal.

Pohuwato tampaknya belum benar-benar bebas dari bayang-bayang tambang ilegal. Tujuh excavator yang diam di gunung dan satu kilogram emas yang nyaris terbang ke luar daerah menjadi pengingat keras: praktik PETI masih berjalan, bahkan semakin adaptif.

Baca Juga:  Imigrasi Gorontalo Deportasi Lima WNA Tiongkok yang Terlibat Tambang Ilegal Pohuwato

Jika sebelumnya pelaku bermain terang-terangan, kini mereka mulai bermain rapi—dan kadang, dengan cara yang hampir membuat orang tersenyum… sebelum akhirnya sadar, ada masalah besar di baliknya.

Disclaimer:

Berita ini merupakan ulasan atas dua peristiwa berbeda yang terjadi dalam waktu berdekatan, yakni penindakan aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Pohuwato dan pengungkapan upaya penyelundupan emas melalui Bandara Djalaluddin, Gorontalo.

Penulis tidak menyatakan bahwa emas yang diamankan di bandara tersebut berasal dari aktivitas PETI di Pohuwato. Hingga saat ini, aparat penegak hukum masih melakukan penyelidikan untuk memastikan asal-usul emas tersebut.

Ulasan ini bertujuan memberikan gambaran umum mengenai maraknya praktik pertambangan ilegal dan potensi distribusi emas secara ilegal, tanpa menarik kesimpulan yang melampaui fakta yang telah terverifikasi.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel