Kabar

Petani dan Nelayan Jadi Kelompok Rentan Kemiskinan di Gorontalo

×

Petani dan Nelayan Jadi Kelompok Rentan Kemiskinan di Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Petani Gorontalo, lebih memilih gotong-royong ketimbang gunakan teknologi alsintan.(Foto:Arfandi Ibrahim)/Hibata.id
Petani Gorontalo, lebih memilih gotong-royong ketimbang gunakan teknologi alsintan.(Foto:Arfandi Ibrahim)/Hibata.id

Hibata.id, Gorontalo – Petani dan nelayan menjadi kelompok yang rentan mengalami kemiskinan di Provinsi Gorontalo.

Keterbatasan modal, pekerjaan musiman, dan akses terhadap layanan dasar menjadi sejumlah persoalan yang disoroti dalam penelitian tentang pengaruh pengangguran dan kemiskinan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Penelitian berjudul Pengaruh Pengangguran dan Kemiskinan terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Gorontalo yang ditulis Moh. Arif Novriansyah itu menguraikan kondisi sosial ekonomi masyarakat berdasarkan data periode 2006–2014.

Dalam kajian tersebut, penduduk miskin di Gorontalo disebut banyak bekerja di sektor pertanian dan perikanan.

Kedua sektor ini menyerap tenaga kerja, tetapi petani dan nelayan masih menghadapi keterbatasan modal serta ketidakpastian pendapatan akibat pekerjaan yang bersifat musiman.

Baca Juga:  Dinilai Cemarkan Nama Baik, Daeng Rudy yang Terduga Pelaku Usaha PETI Bulangita Dipolisikan

Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dasar, termasuk pendidikan dan kesehatan.

Persoalan Modal

Penelitian itu juga menyoroti praktik ijon (praktik jual beli) yang disebut masih berlangsung di sejumlah wilayah pelosok Gorontalo pada saat kajian dilakukan.

Praktik tersebut dinilai memperburuk kondisi pendapatan nelayan dan membatasi akses mereka terhadap pendidikan serta layanan kesehatan.

Temuan itu menjadi salah satu persoalan yang perlu ditelusuri lebih lanjut, terutama untuk mengetahui apakah praktik serupa masih terjadi, bagaimana mekanisme transaksi antara nelayan dan pemberi modal, serta dampaknya terhadap pendapatan rumah tangga nelayan.

Di sektor pertanian, keterbatasan modal dan ketergantungan terhadap hasil produksi juga menjadi aspek penting untuk diperiksa dalam upaya memahami kerentanan ekonomi masyarakat.

Baca Juga:  Shio Kelinci Diprediksi Masuki Fase Positif di 13 Juli 2026, Ini Alasannya

Infrastruktur dan Pendidikan Turut Disorot

Selain persoalan modal, penelitian tersebut mengaitkan kemiskinan dengan keterbatasan infrastruktur penunjang, akses pendidikan, dan sarana ekonomi.

Kondisi infrastruktur yang belum memadai dapat membatasi akses masyarakat terhadap pasar dan berbagai layanan dasar.

Sementara itu, keterbatasan pendidikan dapat menghambat peluang masyarakat untuk meningkatkan keterampilan dan memperoleh pekerjaan dengan pendapatan lebih baik.

Penulis juga menekankan pentingnya kebijakan penanggulangan kemiskinan yang berfokus pada peningkatan pendapatan, kesehatan, dan pendidikan secara bersamaan.

Dalam rekomendasinya, penelitian itu mendorong pemerintah daerah mengevaluasi program bantuan kredit bagi masyarakat miskin agar mekanisme dan administrasinya lebih mudah diakses.

Baca Juga:  Farel Prayoga, Penyanyi Cilik dari Banyuwangi yang Mewarnai Panggung Musik Nasional

Pembangunan infrastruktur dasar, termasuk jalan dan listrik hingga wilayah pelosok, juga dinilai penting untuk mendukung kegiatan ekonomi.

Perlu Evaluasi

Temuan penelitian tersebut memberikan gambaran mengenai persoalan struktural yang dihadapi sebagian masyarakat Gorontalo pada periode yang diteliti.

Namun, data 2006–2014 belum cukup untuk menggambarkan kondisi petani dan nelayan saat ini.

Karena itu, diperlukan pembaruan data mengenai tingkat kemiskinan, pendapatan petani dan nelayan, akses pembiayaan, serta efektivitas program pemerintah untuk mengetahui perkembangan kondisi mereka.

Evaluasi tersebut penting agar kebijakan pengentasan kemiskinan tidak hanya berfokus pada bantuan jangka pendek, tetapi juga memperkuat akses modal, infrastruktur, pendidikan, dan peluang ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.