Hibata.id – Aktivitas tambang milik Pani Gold Project (PGP) kembali menjadi sorotan, kali ini terkait dugaan dampak langsung terhadap lingkungan belajar di SDN 04 Buntulia, Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Pihak sekolah mengeluhkan sejumlah permasalahan, mulai dari kekeringan air bersih hingga polusi debu yang diduga berasal dari aktivitas perusahaan yang beroperasi tepat di belakang sekolah.
Kepala SDN 04 Buntulia, Lukman Daud, menyampaikan bahwa saat ini pihaknya menghadapi kendala serius dalam menunjang proses belajar mengajar. Menurutnya, sumur air di sekolah yang sebelumnya tidak pernah kering, kini sudah tidak dapat digunakan sama sekali.
“Air di sekolah sudah kering total. Ini sangat menyulitkan untuk kebutuhan sehari-hari. Padahal sebelumnya sumur gali kami tidak pernah kering, dan warga sekitar juga mengalami hal serupa,” jelas Lukman saat diwawancarai usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD dan instansi terkait.
Selain air, Lukman juga menyoroti polusi debu dan kebisingan yang mulai mengganggu. Ia menyebut lalu-lalang kendaraan tambang di belakang sekolah membuat siswa kehilangan fokus saat belajar.
“Anak-anak jadi terganggu karena aktivitas kendaraan. Ketika belajar, mereka justru memperhatikan kendaraan yang lewat. Belum lagi debu yang beterbangan, kami khawatir ini berdampak pada kesehatan,” tambahnya.
Meski perusahaan telah menjalankan beberapa program tanggung jawab sosial (CSR) seperti pemberian makanan gratis untuk siswa, Lukman menilai hal tersebut belum menjawab permasalahan utama yang mereka hadapi.
Menanggapi hal ini, External Affairs Manager Pani Gold Project, Mahesha Lugiana, menyatakan bahwa perusahaan sudah memberikan bantuan air bersih secara berkala, yakni setiap tiga hari.
“Selama ini kami rutin bantu air bersih. Alhamdulillah, sejauh ini masih mencukupi. Kami juga aktif turun langsung ke lapangan untuk mendengar dan memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujar Mahesha.
Ia menambahkan bahwa PGP siap memberikan bantuan kapan pun dibutuhkan, termasuk jika diminta oleh pemerintah daerah.
“Jika pemerintah minta bantuan, pasti kami bantu. Setahu kami juga, pemerintah sudah melakukan survei di lokasi,” jelasnya.
Persoalan ini turut menjadi perhatian serius Komisi I DPRD Kabupaten Pohuwato. Dalam RDP yang dipimpin Ketua Komisi I Iwan Abay dan Wakil Ketua Abdul Hamid Sukoli, DPRD mendesak pemerintah daerah agar segera mengambil langkah konkret.
“Melalui Dinas Pendidikan, kami berharap persoalan ini segera dilaporkan ke Bupati. Tidak bisa hanya didiamkan, harus ada tindakan nyata,” tegas Abdul Hamid Sukoli.
Sementara itu, Iwan Abay menambahkan bahwa pihaknya akan menjadwalkan kunjungan lapangan ke lokasi tambang untuk melihat langsung kondisi yang dikeluhkan.
“Kami tidak bisa anggap remeh masalah ini. Komisi I akan turun langsung ke lapangan agar bisa melihat dan mencari solusi terbaik,” ujarnya.
Kasus ini memperlihatkan adanya ketegangan antara aktivitas industri dan hak atas lingkungan pendidikan yang layak. Meski kontribusi CSR perusahaan tetap dihargai, pihak sekolah dan masyarakat menilai bahwa dampak lingkungan yang bersifat langsung seperti air bersih dan debu belum ditangani secara memadai.
Dengan meningkatnya perhatian dari DPRD, publik kini menantikan langkah lanjutan dari pemerintah daerah maupun Pani Gold Project untuk menyelesaikan masalah secara tuntas dan berkelanjutan.















