Hibata.id – Langkah-langkah kecil siswa TK Aisyiyah Bustanul Athfal terdengar riang di tepi Jalan Brigjen Piola Isa, Kota Gorontalo.
Mereka datang dengan tas mungil di punggung, digandeng orang tua, menapaki jalan yang kini tengah diperlebar pemerintah provinsi.
Namun di atas kepala mereka, kabel-kabel listrik dan telekomunikasi menjuntai rendah, sebagian kusut, sebagian melintang tepat di jalur keluar-masuk sekolah.
Pantauan di lokasi, Jumat (20/2/2026), memperlihatkan kabel menggantung pada ketinggian yang mudah dijangkau.
Kendaraan antar-jemput melintas perlahan, sesekali pengemudi menengadah memastikan atap mobil tidak menyentuh kabel yang turun.
Bagi anak usia dini, kabel hanyalah benda hitam yang tampak biasa. Mereka belum memahami risiko korsleting, percikan api, atau bahaya ketika kabel tersangkut kendaraan.
Seorang wali murid mengaku waswas setiap kali mengantar anaknya.
“Ini sekolah anak-anak. Harusnya jadi prioritas pengamanan. Jangan tunggu ada korban baru semua bergerak,” katanya.
Proyek pelebaran Jalan Brigjen Piola Isa memang terlihat progresif.
Badan jalan melebar, akses kendaraan menjadi lebih lapang. Namun, di depan sekolah itu, penataan jaringan utilitas belum sepenuhnya mengikuti perubahan infrastruktur.
Secara teknis, pelebaran jalan seharusnya dibarengi relokasi dan perapian utilitas agar tidak menimbulkan risiko baru. Koordinasi antara pemerintah dan pemilik jaringan menjadi kunci agar pembangunan berjalan aman.
Ketua Lembaga Pengawas Pemerintah Provinsi Gorontalo (LP3G), Deno Djarai, menilai kondisi kabel di depan TK Aisyiyah bukan sekadar persoalan estetika kota.
“Ini soal keselamatan anak-anak. Jangan sampai ada korban baru semua pihak bergerak,” ujarnya.
Ia menyoroti kontras kondisi kabel sekitar 100 meter dari sekolah, di kawasan sekitar kediaman Gubernur Gorontalo, yang tampak lebih tertata.
“Kalau di satu titik bisa rapi, seharusnya di depan sekolah juga bisa ditata dengan baik,” kata dia.
Sementara itu, Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas PUPR-PRKP Provinsi Gorontalo, Ikbal Hasan, menjelaskan kabel yang masih menggantung merupakan penanganan sementara oleh vendor saat konstruksi pelebaran jalan pada 2025.
Menurut dia, pekerjaan pelebaran badan jalan menjadi tanggung jawab dinas, sedangkan perapian tiang dan kabel menjadi kewenangan masing-masing vendor atau pemilik jaringan.
“Sebagian kabel memang milik Telkom, sebagian milik penyedia jaringan lain. Koordinasi sudah kami lakukan sejak September tahun lalu dan akan ditindaklanjuti dengan penataan lebih komprehensif,” ujarnya.
Ia memastikan langkah identifikasi kebutuhan perapian telah dilakukan dan penataan dijadwalkan segera dimulai dengan pendampingan dinas.
Meski begitu, di depan gerbang sekolah itu, waktu terasa berbeda. Bagi para orang tua dan guru, keselamatan siswa tidak bisa menunggu proses teknis berlarut.
Pelebaran jalan memang menghadirkan ruang yang lebih luas bagi kendaraan. Namun bagi anak-anak TK Aisyiyah Bustanul Athfal, rasa aman di bawah kabel yang menjuntai tetap menjadi harapan yang ingin segera diwujudkan.
Hingga berita ini disiarkan, Telkom Indonesia belum memberikan tanggapan resmi terkait kondisi kabel di lokasi tersebut.













