Hibata.id – Kawasan Center Point Bone Bolango yang digadang menjadi etalase ekonomi kreatif daerah menunjukkan geliat usaha yang makin menggembirakan.
Para pelaku UMKM berhasil bertahan dan berkembang melalui berbagai inovasi serta kerja keras.
Namun, kemajuan tersebut menimbulkan perdebatan. Aktivis dan pemuda Bone Bolango, Arham Saidi, mempertanyakan absennya peran Komite Ekonomi Kreatif (Kekraf) Bone Bolango dalam proses perkembangan UMKM di kawasan itu.
Kekraf Bantah Tak Berperan
Pernyataan tersebut langsung dibantah oleh Ketua Dewan Pengarah Komite Ekonomi Kreatif (Kekraf) Bone Bolango, Tomi Laisa.
Ia menegaskan bahwa Kekraf memiliki peran besar dalam pembentukan identitas kawasan ekonomi kreatif sejak 2018.
Tomi menjelaskan, keberadaan pedestrian yang kini menjadi lokasi aktivitas UMKM di Center Point bukan muncul begitu saja.

Melainkan bagian dari upaya pemenuhan syarat penetapan zona kawasan ekonomi kreatif kala itu.
“Kalau tidak ada Kekraf, pedestrian sebagai pusat aktivitas UMKM tidak akan ada. Itu sudah kami perjuangkan sejak 2018 untuk memenuhi persyaratan penetapan Kota Kreatif,” jelasnya.
Tomi juga menekankan bahwa Kekraf sedang mempersiapkan Musyawarah Daerah (Musda) Ketiga sebagai bagian dari konsolidasi organisasi untuk kepengurusan periode 2026–2029, sesuai amanah organisasi.
Selain itu, Kekraf mengawal penyusunan Peraturan Daerah tentang kawasan ekonomi kreatif yang dianggap penting bagi penguatan ekosistem UMKM di Center Point.
“Keliru jika ada yang mengatakan Kekraf tak punya peran. Organisasi tetap berjalan sesuai amanah konstitusi dan terus mengawal pembangunan ekosistem ekonomi kreatif,” tegas Tomi.
Pelaku UMKM di Center Point berharap perdebatan ini berujung pada penguatan kolaborasi pemerintah, Kekraf, dan pelaku usaha agar kawasan ekonomi kreatif benar-benar mampu menjadi lokomotif ekonomi daerah.
“Terutama dari fasilitas listik, toilet hingga Wifi yang masih kurang di lokasi ini,” kata Noval salah satu pelaku usaha.













