Hibata.id – Suara protes menggema dari Desa Balayo, Kecamatan Patilanggio, Kabupaten Pohuwato. Sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan warga kini berubah keruh, penuh endapan, dan nyaris mati.
Hal itu terungkap dari sebuah unggahan Facebook oleh akun Hine Saleh memperlihatkan aliran sungai yang kotor dan tak terurus—menjadi potret nyata keputusasaan warga. Dalam unggahannya, Hine menulis dengan nada getir.
“Masih adakah yang peduli dengan sungai di belakang rumah warga? Kami sudah menjalin kerja sama dengan pihak tertentu, tapi belum ada penanganan serius. Apa keluhan warga tak berharga dibanding kedipan mata para petinggi? Atau harus menunggu banjir besar melanda, baru semua tergerak?”
Tulisan itu viral dan memantik reaksi publik. Kritik pedas warga Balayo menjadi tamparan bagi aparat desa dan pihak berwenang yang dianggap menutup mata terhadap kerusakan lingkungan di wilayah mereka.
Kepala Desa Balayo, Nanang Pulumuduyo, tak menampik kondisi tersebut. Ia mengakui, sungai di desanya memang rusak akibat aktivitas tambang ilegal yang kian merajalela. “Pemerintah desa sudah turun langsung. Sudah lima hari kami di lapangan,” kata Nanang kepada Hibata.id, Kamis (13/11/2025).
Namun, ia menyesalkan sikap para pelaku usaha tambang ilegal yang hingga kini belum juga mengambil langkah konkret untuk memperbaiki kerusakan lingkungan. “Bahasa keberatan itu ada, karena tidak diindahkan sampai saat ini,” ujarnya tegas.
Nanang juga menyinggung soal penerima “atensi” dari pihak pelaku tambang ilegal. Menurutnya, mereka yang menikmati keuntungan dari aktivitas tambang ilegal itu semestinya turut bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkannya.
“Pertama, torang turun itu kaitannya dengan penerima atensi. Soalnya, banyak yang jaga bilang ada orang lain yang juga terima atensi di Balayo. Terus, yang bekerja di situ bertanya, kenapa cuma yang kerja kemarin yang ditekan, tapi yang sekarang tidak?”
Ia mendesak para pelaku usaha untuk menunjukkan itikad baik melalui aksi nyata membantu warga memulihkan sungai. “Saya minta mereka buat gerakan peduli terhadap keluhan masyarakat. Kami sudah menunggu, tapi belum ada langkah apa pun,” ucapnya kecewa.
Nanang menambahkan, kondisi sungai di Balayo kini tak hanya tertimbun material tambang, tapi juga semakin menyempit akibat sedimentasi. “Itu sungai bukan sekadar tertutup lumpur, tapi sudah menyempit. Harapan kami, harus ada tindakan normalisasi dari para pelaku usaha,” tutupnya.















