Hibata.id – Serangan militer Israel ke Iran memicu lonjakan harga minyak dunia dan berpotensi menekan harga barang di Indonesia dalam jangka pendek hingga menengah.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah itu mendorong pasar energi global bereaksi cepat, sehingga meningkatkan risiko inflasi domestik.
Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak sekitar 13 persen dalam satu hari dan menyentuh kisaran 78,50 dolar AS per barel, tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Kenaikan ini langsung memengaruhi negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, yang masih mengandalkan pasokan minyak dari luar negeri.
Harga Minyak Naik, Biaya Impor Energi Meningkat
Kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan biaya impor bahan bakar minyak (BBM) dan energi. Kondisi tersebut dapat mendorong naiknya ongkos distribusi dan produksi barang di dalam negeri.
Ekonom menilai, apabila konflik meluas dan mengganggu rantai pasok energi global, harga minyak dapat menembus 100 dolar AS per barel.
Bahkan, jika jalur strategis Selat Hormuz terganggu—yang dilalui sekitar 20 hingga 30 persen pasokan minyak global—harga berpotensi melampaui 130 dolar AS per barel.
“Kenaikan harga energi global biasanya cepat merambat ke biaya logistik dan harga kebutuhan pokok,” kata seorang analis ekonomi di Jakarta, Minggu.
Risiko Inflasi dan Tekanan APBN
Indonesia menghadapi sejumlah risiko ekonomi akibat lonjakan harga energi global. Pertama, beban subsidi energi dapat meningkat jika pemerintah menahan harga BBM domestik demi menjaga daya beli masyarakat.
Kedua, pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Pelemahan rupiah dapat memperbesar biaya impor bahan baku dan komoditas lain, sehingga memperkuat tekanan inflasi. Jika inflasi meningkat, harga kebutuhan pokok dan tarif transportasi berpotensi ikut naik.
Pengamat fiskal menilai pemerintah perlu mengantisipasi dampak lanjutan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama pada pos subsidi dan kompensasi energi.
Pemerintah Pantau Perkembangan Global
Pemerintah Indonesia menyatakan terus memantau dinamika harga minyak dunia dan stabilitas pasar keuangan. Hingga saat ini, otoritas belum melaporkan dampak signifikan terhadap inflasi maupun nilai tukar pada tahap awal konflik.
Meski demikian, kementerian terkait menegaskan pentingnya menjaga ketahanan energi nasional dan stabilitas harga domestik melalui koordinasi lintas sektor.
Dampak Potensial ke Indonesia
Berikut sejumlah dampak yang berpotensi terjadi jika harga minyak dunia terus meningkat:
-
Harga minyak global naik → Biaya impor energi meningkat, mendorong harga barang
-
Subsidi energi membesar → Tekanan terhadap APBN
-
Nilai tukar rupiah tertekan → Biaya impor bahan baku naik
-
Inflasi meningkat → Harga kebutuhan pokok dan transportasi naik
-
Ketidakpastian global → Arus modal cenderung masuk ke aset aman
Ekonom mendorong pemerintah memperkuat cadangan energi, menjaga stabilitas fiskal, serta mempercepat diversifikasi sumber energi guna meredam dampak eksternal.
Situasi geopolitik Timur Tengah akan menjadi faktor penentu arah harga energi global dalam beberapa pekan ke depan. Pasar dan pelaku usaha di dalam negeri kini menunggu langkah strategis pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.












