HeadlineNusantara

Suku Polahi, Komunitas Pedalaman Gorontalo dengan Cara Hidup Tradisional

×

Suku Polahi, Komunitas Pedalaman Gorontalo dengan Cara Hidup Tradisional

Sebarkan artikel ini
Pasangan Suku Polahi ini mulai menjalani kehidupan baru setelah berbaur dengan warga sekitar. (Foto: Franco)/Hibata.id
Pasangan Suku Polahi ini mulai menjalani kehidupan baru setelah berbaur dengan warga sekitar. (Foto: Franco)/Hibata.id

Hibata.id – Lereng sunyi Gunung Boliyohuto, waktu seakan berhenti bergerak. Di tengah rimbun hutan yang nyaris tak tersentuh modernitas, hidup sekelompok manusia yang menjalani kehidupan menyerupai masa awal peradaban, mereka adalah Suku Polahi.

Di saat dunia berbicara tentang kecerdasan buatan dan digitalisasi, komunitas ini justru bertahan dengan cara hidup yang mengingatkan pada manusia purba.

Bergantung pada alam, berpindah tempat, dan hidup dalam kelompok kecil yang tertutup.

Suku Polahi bukan sekadar komunitas adat terpencil. Mereka adalah potongan sejarah hidup—jejak manusia yang memilih keluar dari arus peradaban sejak ratusan tahun silam.

Nama “Polahi” sendiri berarti pelarian. Istilah itu bukan sekadar identitas. Melainkan kisah panjang tentang penolakan.

Pada abad ke-17 silam, saat kekuasaan VOC menekan masyarakat lokal Gorontalo, sekelompok orang memilih meninggalkan dunia luar dan masuk ke hutan.

Mereka tidak hanya melarikan diri dari penjajahan, tetapi juga dari sistem sosial yang dianggap mengikat. Sejak saat itu, hutan menjadi rumah, sekaligus benteng terakhir mereka.

Baca Juga:  Inspirasi Menu Buka Puasa Ramadan yang Seimbang dan Mengenyangkan

Antara Alam dan Naluri Bertahan

Untuk mencapai permukiman mereka, perjalanan harus ditempuh selama berjam-jam melintasi jalur ekstrem.

Tidak ada jalan pasti, hanya jejak yang dikenali oleh mereka yang telah menyatu dengan alam.

Di sana, kehidupan berjalan dalam ritme yang berbeda. Mereka tidak mengenal huruf, angka, atau teknologi.

Alam menjadi guru, sekaligus sumber kehidupan. Mereka bertani secara sederhana, memanfaatkan apa yang tersedia tanpa eksploitasi berlebihan.

Rumah-rumah mereka berdiri tanpa konsep arsitektur modern—hanya tiang kayu dan atap daun.

Pakaian pun berasal dari alam, seperti daun woka yang diolah sekadarnya.

Dalam banyak aspek, pola hidup ini mengingatkan pada fase awal manusia ketika ketergantungan terhadap alam menjadi satu-satunya pilihan.

Kepercayaan dan Pola Pindah

Salah satu ciri paling mencolok dari kehidupan Polahi adalah kebiasaan berpindah tempat. Ketika kematian datang, mereka tidak tinggal, mereka pergi.

Baca Juga:  Mengenang Tragedi Marsinah, Pahlawan Buruh yang Menginspirasi

“Kami harus mencari tempat baru jika ada yang meninggal,” ujar Nakiki, perempuan Polahi.

Kepercayaan ini mencerminkan pola pikir manusia awal yang mengaitkan kematian dengan energi negatif atau ancaman bagi kelompok. Perpindahan menjadi bentuk perlindungan sekaligus adaptasi.

Mereka hidup dalam kelompok kecil, menjaga jarak dari dunia luar, dan mempertahankan sistem sosial yang berbeda dari masyarakat modern.

Stigma dan Realitas

Di luar hutan, cerita tentang Suku Polahi berkembang liar. Ada yang menyebut mereka memiliki kemampuan menghilang. Bahkan ada yang menuduh praktik yang tidak berdasar. Namun, realitasnya jauh lebih sederhana.

“Kami tidak menghilang. Kami hanya lebih cepat bergerak di hutan,” kata Tuli, salah satu anggota Polahi yang kini mulai membuka diri.

Kemampuan membaca alam, mengenali jalur, dan bergerak cepat membuat mereka tampak “lenyap” bagi orang luar. Padahal, itu adalah hasil dari pengalaman hidup yang panjang di hutan.

Baca Juga:  Skandal Dugaan Eksploitasi Seksual ASN Gorut, Korban Bongkar Pola Kejahatan Berantai

Dari Isolasi ke Adaptasi

Waktu perlahan mengubah segalanya. Sebagian anggota Suku Polahi mulai keluar dari isolasi.

Mereka mulai mengenal pakaian modern, berinteraksi dengan warga desa, bahkan menjual hasil pertanian. Namun, proses adaptasi ini tidak selalu mudah.

Stigma masih melekat, mereka sering dianggap tertinggal, tidak berpendidikan, bahkan dipandang berbeda dari masyarakat Gorontalo pada umumnya.

Padahal, di balik cara hidup mereka, tersimpan pengetahuan alam, ketahanan hidup, dan sejarah panjang yang tidak dimiliki oleh banyak orang.

Suku Polahi bukan sekadar cerita tentang keterasingan. Mereka adalah cermin masa lalu—pengingat bahwa manusia pernah hidup sepenuhnya bergantung pada alam.

Di tengah dunia yang terus bergerak maju, keberadaan mereka menghadirkan pertanyaan penting, apakah kemajuan selalu berarti meninggalkan cara hidup lama, atau justru ada nilai yang perlu dijaga dari masa lalu?

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel