Hibata.id – Nasib sial menimpa rakyat kecil Pohuwato. Eh, ternyata nggak cuma rakyat sih, anggota DPRD juga ikut-ikutan jadi korban kelangkaan gas Elpiji 3 kilogram alias si gas melon yang makin hari makin susah dicari.
Drama ini terungkap saat rapat dengar pendapat (RDP) yang digelar di DPRD Pohuwato, Senin (22/9/2025).
Forum itu awalnya serius banget karena ada desakan dari mahasiswa PMII Cabang Pohuwato soal distribusi gas.
Tapi siapa sangka, salah satu anggota dewan, Suprapto Monoarfa, malah curhat blak-blakan kalau dia juga sering jadi pemburu gas.
“Jujur saja, saya tidak sependapat dengan pernyataan Pak Kadis. Sebab, saya sendiri yang tinggal di Paguat kadang-kadang harus mencari gas, bahkan sering kehabisan,” ungkap Suprapto, bikin suasana rapat mendadak relate banget dengan isi dapur rakyat jelata.
Menurutnya, distribusi gas di wilayah Paguat dan sekitarnya memang bikin dahi berkerut.
“Ada rumah yang bisa mendapat dua sampai tiga tabung. Di Pentadu, misalnya, hanya ada empat pangkalan dengan total kuota sekitar 180 tabung. Dari jumlah itu, ada pangkalan yang hanya mendapat 30 tabung, ada juga yang 60. Padahal jumlah kepala keluarga di Pentadu sekitar 600 KK,” jelasnya.

Bayangkan, satu kampung 600 KK, tapi gas yang datang cuma segitu. Jadilah gas melon lebih langka daripada promo iPhone terbaru.
Nggak heran, Suprapto kemudian menekankan perlunya pengawasan ketat biar subsidi ini tepat sasaran. Ia bahkan menyebut distribusi yang ngawur itu bisa bikin negara tekor.
“Saya minta mulai hari ini, setiap pangkalan wajib menyediakan timbangan. Karena ada bukti, ini bisa merugikan masyarakat dan negara. Bayangkan, kalau cara seperti itu terus dilakukan oleh perusahaan, itu sama saja pencurian. Maka perusahaan harus lebih tegas, setiap tabung harus ditimbang sebelum diserahkan ke masyarakat,” tegasnya.
Lucu tapi miris: kalau anggota DPRD aja ikut pusing nyari gas, apalagi ibu-ibu yang tiap hari harus masak. Bisa-bisa bukan cuma dapur yang ngebul, tapi kepala juga ikut ngebul.












