Hibata.id – Di tengah ritme ekonomi nasional yang perlahan menanjak, Gorontalo memperlihatkan denyut yang tak kalah menarik.
Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Gorontalo, lewat forum Gorontalo Economic Outlook (GEO) 2025, mengumumkan proyeksi yang patut dicermati, ekonomi daerah ini sedang berada di jalur pemulihan yang lebih sehat dan terarah.
Dengan tema “Sinergi dan Kolaborasi untuk Akselerasi Menuju Gorontalo yang Maju dan Sejahtera”, forum itu bukan sekadar seremoni, melainkan cermin arah kebijakan daerah yang sedang belajar menyeimbangkan dua hal penting — pertumbuhan dan ketahanan.
Inflasi Terkendali, Roda Fiskal Berputar
Hingga semester pertama 2025, ekonomi Gorontalo menunjukkan tanda-tanda membaik. Inflasi terkendali, bahkan lebih stabil dibanding tahun lalu.
Harga pangan strategis — beras, bawang, cabai rawit, tomat — yang selama ini kerap jadi “barometer keresahan pangan rakyat”, kini terpantau aman.
Kepala BI Gorontalo, Bambang Satya Permana, menyebut tren ini bukan hasil kebetulan, melainkan buah dari koordinasi panjang antara pemerintah daerah, BI, dan pelaku usaha lokal.

Dari sisi fiskal, kinerja pemerintah daerah juga mulai menunjukkan keberanian baru: belanja dan pendapatan meningkat.
Anggaran tak lagi sebatas formalitas serapan, melainkan instrumen yang bergerak untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh.
Di tengah geliat ekonomi digital, Gorontalo menjadi salah satu provinsi yang paling cepat mengadopsi sistem pembayaran nontunai.
“Pertumbuhan transaksi QRIS melonjak signifikan, diikuti peningkatan jumlah merchant dan pengguna baru,” kata Bambang.
Perubahan ini bukan hanya soal efisiensi transaksi, tapi tanda munculnya budaya ekonomi baru, masyarakat yang semakin nyaman dengan teknologi dan transparansi.
Inilah wajah baru Gorontalo — daerah yang dulu identik dengan agraria, kini perlahan bersentuhan dengan fintech dan inovasi digital.
Namun, jangan buru-buru menepuk dada. Di balik tren positif itu, Gorontalo masih menyimpan pekerjaan rumah besar.
Sektor pertanian, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi, masih bergulat dengan hilirisasi yang belum optimal.
Jagung, misalnya, tetap menjadi komoditas unggulan, tetapi nilai tambahnya masih banyak menguap keluar daerah.
Sementara sektor industri pengolahan mulai menunjukkan geliat, terutama lewat aktivitas tambang emas di Pohuwato dan produksi pelet kayu yang terus meningkat.
Namun keduanya belum sepenuhnya menetes ke lapisan bawah ekonomi. Tantangan terbesar Gorontalo ke depan adalah memastikan pertumbuhan ini tidak hanya statistik, tapi juga kesejahteraan.
Bank Indonesia membaca peluang baru: penyelesaian Bendungan Bulango Ulu akan memperluas cakupan irigasi dan membuka ruang bagi pertanian berkelanjutan.
Harga komoditas kelapa yang naik juga memberi angin segar bagi industri olahan.
Tapi BI tetap realistis — penurunan transfer ke daerah (TKD) bisa menggerus ruang fiskal, sementara berakhirnya proyek strategis nasional berpotensi mengerem laju investasi.
Dalam rekomendasinya, BI Gorontalo menegaskan perlunya sinergi yang nyata, bukan hanya jargon.
Mulai dari hilirisasi berbasis komoditas lokal, peningkatan produktivitas lewat teknologi pertanian, hingga pembiayaan kreatif seperti Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) untuk proyek infrastruktur daerah.
Tak kalah penting, pemberdayaan UMKM dan digitalisasi pajak daerah diharapkan menjadi dua mesin baru penggerak ekonomi lokal.
Pajak tak lagi jadi momok, melainkan bagian dari ekosistem ekonomi modern yang lebih efisien dan transparan.
Dari paparan BI, jelas bahwa Gorontalo bukan sekadar mengikuti arus nasional — daerah ini mulai menyusun arah ekonominya sendiri.
Pertanian, digitalisasi, dan kolaborasi lintas sektor menjadi tiga kuda penggerak yang jika dikawal dengan konsisten, akan membawa Gorontalo keluar dari jebakan stagnasi.
Tapi tentu, sinergi tanpa keberanian hanya akan jadi retorika.
Pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat mesti berani menatap masa depan ekonomi dengan cara baru, inovatif, terbuka, dan berorientasi nilai tambah.
Karena pada akhirnya, seperti yang diingatkan Bambang Satya Permana, “Ekonomi yang kuat bukan soal angka, tapi soal kesejahteraan yang dirasakan bersama.”












