Hibata.id – Nama Brigadir Meylan Putri Adu mendadak menjadi sorotan publik setelah diduga melakukan intimidasi terhadap mahasiswa pendemo melalui sebuah unggahan di akun Facebook pribadinya. Perempuan yang menjabat sebagai Bhabinkamtibmas di Polsek Telaga, Polres Gorontalo ini sebelumnya dikenal aktif dalam kegiatan sosial masyarakat.
Brigadir Meylan bahkan pernah menerima penghargaan dari SDIT Al-Kautsar Gorontalo atas partisipasinya dalam kampanye anti-perundungan. Namun ironisnya, kini ia justru dituding melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang pernah ia kampanyekan—dengan mempermalukan mahasiswa di ruang publik melalui media sosial.
Di luar tugas kepolisian, Meylan juga dikenal sebagai wirausaha yang menjual mainan anak-anak di sekitar pos polisi Kecamatan Telaga. Aktivitas ini sempat menuai pujian karena dianggap mencerminkan sisi humanis dari sosok aparat. Sayangnya, citra positif tersebut kini dipertanyakan setelah unggahannya viral dan dianggap sebagai bentuk intimidasi psikologis terhadap mahasiswa.

Tindakan tersebut dinilai tidak selaras dengan perannya sebagai aparat penegak hukum. Banyak pihak mempertanyakan bagaimana seorang polisi yang selama ini dikenal sebagai representasi “wajah humanis Polri” bisa menjadikan mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasi sebagai bahan ejekan di media sosial.
“Dulu ikut kampanye anti-bullying, sekarang malah diduga pelaku bullying. Kontradiktif banget,” tulis seorang warganet.
Kasus ini menambah daftar panjang kontroversi yang melibatkan aparat di Gorontalo. Jika dugaan terhadap Brigadir Meylan terbukti benar, maka tindakannya bukan hanya mencoreng nama institusi Polri, tetapi juga berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap Polwan—yang sejatinya hadir untuk melindungi, bukan menyerang.












