Hibata.id – Perubahan perilaku konsumen digital semakin nyata pada 2025. Masyarakat kini lebih memilih bertanya ke kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT atau Gemini daripada mencari informasi lewat Google.
Dari rekomendasi produk, tempat makan, hingga keputusan pembelian, konsumen mulai menjadikan AI sebagai “asisten pribadi” mereka.
AI generatif tidak menampilkan daftar tautan seperti mesin pencari, melainkan memberikan jawaban langsung. Jika sebuah merek tidak tercatat dalam basis data terbuka, maka nama tersebut tidak akan pernah disebut.
“Konten terbuka adalah kunci. Tanpa jejak digital, brand akan tenggelam di era AI,” ungkap riset Demandsage (2025).
Fakta Penggunaan AI di Indonesia
Data Demandsage mencatat ChatGPT digunakan oleh lebih dari 800 juta pengguna aktif mingguan di seluruh dunia. Indonesia bahkan menempati lima besar negara dengan pengguna AI terbanyak (Dataconomy, 2024).
Sementara riset Oliver Wyman (2024) menemukan:
50 persen pekerja kantoran di Indonesia menggunakan AI generatif setiap minggu.
21 persen di antaranya menggunakan AI setiap hari, mulai dari pembuatan konten, analisis data, hingga mencari vendor atau produk.
Tren ini menandai pergeseran perilaku digital. Model AI seperti ChatGPT dan Gemini dilatih menggunakan artikel blog, berita, forum publik, dokumentasi teknis, serta dataset terbuka seperti Common Crawl dan Wikipedia.
Namun, AI tidak mengakses media sosial tertutup seperti Instagram atau TikTok. Artinya, konten visual semata tidak cukup membuat brand dikenal AI.
Risiko Jika Brand Tidak Hadir di Dunia AI
Brand yang tidak membangun narasi digital terbuka berisiko:
Tidak muncul dalam jawaban AI.
Kehilangan reputasi digital.
Kalah bersaing dalam rekomendasi konsumen.
Perusahaan Besar Justru Lebih Rentan
Ironisnya, perusahaan besar bisa lebih rentan tertinggal dibanding pelaku UMKM karena reputasi digitalnya mudah hilang jika tidak terdokumentasi di basis data terbuka. Kampanye iklan masif tidak serta-merta tercatat di model AI (LLM).
Jika konsumen bertanya ke AI tentang produk Anda dan nama brand tidak disebut, maka AI tidak mengenal Anda. Dalam jangka panjang, konsumen pun bisa melupakan brand tersebut.
Kini saatnya semua pelaku usaha membangun jejak digital dengan konten informatif, edukatif, dan dapat dianalisis AI. Di era baru ini, hanya brand yang dikenal AI yang akan direkomendasikan konsumen.















