Scroll untuk baca berita
HeadlineWisata

Walima dan Tradisi Maulid Nabi yang Menjadi Wisata Religi Gorontalo

×

Walima dan Tradisi Maulid Nabi yang Menjadi Wisata Religi Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Festival Walima memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw di Masjid At-Taqwa Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (15/10/2022). Tolangga adalah wadah yang dibentuk menyerupai menara masjid yang pada setiap sisinya dihiasi dengan kue adat Gorontalo, seperti kolombengi dan sukade yang dipersembahkan warga pada perayaan walima. (Foto : Nova)/Hibata.id
Festival Walima memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw di Masjid At-Taqwa Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (15/10/2022). Tolangga adalah wadah yang dibentuk menyerupai menara masjid yang pada setiap sisinya dihiasi dengan kue adat Gorontalo, seperti kolombengi dan sukade yang dipersembahkan warga pada perayaan walima. (Foto : Nova)/Hibata.id

Hibata.id – Mentari baru terbit di ufuk timur ketika warga Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, mulai sibuk menyiapkan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Di desa ini, peringatan Maulid dikenal dengan sebutan Walima, sebuah tradisi turun-temurun yang tetap terjaga sejak abad ke-17.

Di Masjid At-Taqwa, pusat kegiatan desa, suara lantunan zikir atau dikili menggema sejak malam sebelumnya.

Dikili adalah doa dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW, dilaksanakan selepas Isya hingga menjelang pagi.

“Dikili itu bentuk syukur atas kelahiran Nabi. Doanya panjang, bisa sampai pukul 9 atau 10 pagi,” tutur Yamin Nusi, Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Batudaa Pantai yang juga aktif mengelola wisata Desa Bongo.

Naskah dikili ditulis dengan huruf Arab Pegon berbahasa Gorontalo. Karena tanpa tanda baca, hanya orang-orang tua berilmu agama yang mampu melantunkannya. Itulah mengapa, pembaca dikili sering didatangkan dari desa lain.

Baca Juga:  Cek Fakta: Kematian Pelatih Orca Jessica Radcliffe yang Ramai di TikTok

Sementara doa berlangsung, warga Desa Bongo sibuk menyiapkan tolangga. Tolangga adalah keranda hias dari bambu atau kayu berbentuk masjid, menara, hingga kapal laut.

Di atasnya tersusun aneka makanan tradisional seperti kolombengi, wapili, sukade, telur rebus, hingga kue brudel.

“Bentuk kapal laut itu menggambarkan kehidupan nelayan di desa ini,” jelas Yamin.

Tak hanya makanan tradisional, kini sebagian warga juga menambahkan kopi instan, mie kemasan, dan jajanan modern.

Di dalam tolangga, ada juga toyopo, wadah anyaman daun kelapa berisi nasi kuning, ikan, sambal, dan kue basah.

Ketika semua selesai dihias, ratusan tolangga diarak menuju masjid. Tahun ini terkumpul 116 tolangga dengan total 57.222 kue tradisional.

Baca Juga:  Alasan Panglima TNI Kerahkan Pasukan Amankan Kejaksaan di Seluruh Indonesia

Suasana berubah haru ketika doa dilantunkan, lalu makanan dibagikan kepada 185 pezikir—22 laki-laki dan 163 perempuan—sebagai simbol syukur.

Dari Tradisi ke Festival Wisata

Bagi warga Bongo, Walima bukan sekadar peringatan Maulid. Tradisi ini dipercaya membawa keberkahan.

“Kadang sebelum Walima, masyarakat merasa tidak cukup biaya. Tapi mendekati acara, selalu ada rezeki yang datang. Itulah karomah dari Walima,” ujar Yamin.

Tradisi inilah yang kemudian berkembang menjadi Festival Walima, sebuah agenda tahunan pariwisata religi Gorontalo.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo Rifli Katili menyebut, meski Maulid diperingati di banyak daerah, Walima di Bongo adalah yang paling besar dan meriah.

“Pengunjung datang bukan hanya dari Gorontalo, tapi juga dari Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Walima kini menjadi ikon wisata religi di Gorontalo,” kata Rifli.

Baca Juga:  Air Terjun Sinambo, Surga Tersembunyi di Ujung Bone Bolango

Selain Festival Walima, Desa Bongo juga menawarkan destinasi religi seperti Masjid Walima Emas di atas bukit, Pantai Dulanga, dan Taman Bubohu—sebuah pesantren alam dengan pondok berbentuk Walima dan kolam simbol kelahiran Nabi.

Pada 2021, Desa Bongo meraih juara dua Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) kategori Desa Wisata Berkembang. Pemerintah Provinsi Gorontalo kemudian menetapkannya sebagai Desa Wisata Religi.

Walima di Bongo kini bukan hanya menjaga tradisi Islam sejak ratusan tahun lalu, tetapi juga menjadi magnet wisata yang mempertemukan budaya, religi, dan ekonomi masyarakat.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel