Hibata.id – Suhu panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Gorontalo beberapa pekan terakhir merupakan tanda awal masuknya musim kemarau tahun 2025.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi ini akan mencapai puncaknya pada Oktober mendatang.
Kepala Bidang Pelayanan Jasa Stasiun Klimatologi UPT Klimatologi BMKG Gorontalo, Mulyadi, menjelaskan bahwa wilayah Gorontalo secara resmi telah memasuki musim kemarau sejak pertengahan Juli.
“Wilayah Gorontalo saat ini sudah resmi memasuki musim kemarau. Puncaknya diperkirakan terjadi pada Oktober,” kata Mulyadi di Gorontalo, Selasa (29/7/2025).
Meski curah hujan mulai menurun, hujan lokal dengan intensitas ringan masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan sebagai bagian dari transisi cuaca menuju puncak kemarau.
Antisipasi Kekeringan dan Gangguan Kesehatan
Mulyadi mengimbau masyarakat di wilayah rawan kekeringan untuk mulai mengantisipasi dampak musim kemarau, termasuk dengan menampung air saat masih tersedia.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan selama periode ini, khususnya untuk kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Cuaca kering disertai debu berpotensi meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan gangguan kesehatan lainnya.
“Kami mengimbau warga untuk menjaga pasokan air dan kesehatan. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan terhadap penyakit akibat cuaca ekstrem,” ujarnya.
Kolaborasi Daerah Hadapi Kemarau 2025
Menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung selama beberapa bulan ke depan, BMKG mengajak pemerintah daerah dan masyarakat untuk memperkuat sinergi dalam menjaga ketersediaan air bersih dan memperkuat layanan kesehatan di tingkat lokal.
Langkah ini penting dilakukan untuk mencegah krisis air dan menekan dampak sosial-ekonomi akibat kekeringan, terutama di wilayah pedesaan dan pesisir Gorontalo yang rawan mengalami penurunan pasokan air bersih.












