Hibata.id – Harga beras di Kabupaten Pohuwato terus melonjak, dan bersamaan dengan itu, nasib ribuan petani di wilayah ini kian terpuruk. Di tengah isu kenaikan harga pangan nasional, Pohuwato menghadapi krisis yang lebih dalam: gagal panen beruntun akibat hama tikus dan rusaknya irigasi, membuat hasil pertanian bukan hanya anjlok—tetapi tak layak konsumsi.
Kepala Dinas Pangan Kabupaten Pohuwato, Musna Giasi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pengecekan langsung terhadap stok beras yang tersedia di beberapa kecamatan. Dari hasil pantauan, ketersediaan beras di Kecamatan Buntulia dan Duhiadaa tercatat sekitar 67 ton.
Namun, stok tersebut sebagian besar berasal dari luar daerah, karena panen lokal mengalami penurunan drastis. “Beras ini lagi naik daun. Kami sudah cek di beberapa kecamatan. Tapi untuk mencukupi kebutuhan, masih bergantung pada pasokan dari luar,” ujar Musna.
Dari hasil pengecekan, Dinas Pangan mencatat masih ada sisa sekitar 3 ton beras dari Kecamatan Randangan—wilayah yang turut terdampak gagal panen. Penyebabnya adalah hama tikus yang menyerang ketika kondisi irigasi sedang rusak parah.
Sayangnya, hingga saat ini Dinas Pangan belum dapat memastikan apakah beras-beras tersebut layak konsumsi. “Soal kelayakan, kami belum dapat data pastinya. Masih kami kroscek. Kalau memang ditemukan tidak layak konsumsi, tentu akan kami tindak lanjuti,” tegas Musna.
Petani Kolaps
Kondisi di lapangan jauh lebih mencemaskan. Ribuan petani di Kecamatan Buntulia dan Duhiadaa terancam bangkrut. Wartawan Hibata.id yang turun langsung ke lokasi mendapati para petani berkumpul di sawah, meluapkan kekecewaan dan keputusasaan mereka.
Ketua Kelompok Tani P3A Duhiadaa, Abdurahman Lukum, menyampaikan bahwa permasalahan utama bukan lagi soal benih atau pupuk, tetapi rusaknya saluran irigasi yang menyebabkan air penuh lumpur, sehingga pestisida tidak lagi berfungsi.
“Biasanya, kalau benih datang, petani rebutan. Sekarang malah tidak ada yang mau ambil. Buat apa menanam kalau akhirnya gagal lagi?” keluhnya. Ia menceritakan hasil panennya yang terus menurun: dari 90 karung, menjadi 60, lalu 40, dan terakhir hanya 23 karung.
Mohamad Badu, petani lainnya, mengalami nasib serupa. Lahan seluas 2 hektare yang ia kelola kini hanya menghasilkan 20 karung padi—padahal sebelumnya bisa mencapai 100. Sementara itu, Sili Madjiji, dengan lahan 3 hektare, benar-benar tak mendapatkan hasil apapun.
“Panen pertama saya dapat 120 karung, lalu turun jadi 70, sekarang nol. Biaya sudah keluar belasan juta, tapi hasilnya kosong,” katanya lirih.
Midun Rahim, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Duhiadaa sekaligus petani aktif, juga merasakan dampaknya. Dari biasanya 100 karung lebih per musim, kini hanya 24 karung yang bisa ia panen.
“Ini musim terburuk sepanjang saya bertani. Semua prosedur sudah kami jalankan: semprot, pupuk, racun hama. Tapi kalau air keruh, pestisida tidak bekerja. Hama malah makin ganas,” tuturnya.
Para petani sepakat bahwa bantuan benih dan pupuk tidak akan menyelesaikan masalah jika irigasi tak segera diperbaiki. Bahkan, banyak benih yang kini dibiarkan menumpuk di gudang kelompok tani, karena petani enggan menanam dalam kondisi seperti ini.
“Kalau begini terus, bukan cuma gagal panen. Ini gagal hidup,” pungkas Abdurahman.
Berikut data kerusakan lahan sawah di Daerah Irigasi Taluduyunu yang berhasil dihimpun:
Kecamatan Buntulia
- Rukun Bersama – 88,47 Ha
- Suka Makmur – 193,00 Ha
- Helumo – 218,00 Ha
- Karya Jaya – 21,00 Ha
- Suka Damai – 100,00 Ha
Total Lahan Kelompok: ±372,58 Ha
Total Areal Anggota: ±568,30 Ha
Kecamatan Duhiadaa
- Semangat Membangun – 84,00 Ha
- Mekar Jaya – 78,00 Ha
- Sinar Tani – 88,01 Ha
- Karya Murni – 110,79 Ha
- Beringin Jaya – 112,00 Ha
- Semangat Juang – 37,00 Ha
- Pasang Surut – 34,00 Ha
Total Lahan Kelompok: ±1.025,43 Ha
Total Areal Anggota: ±1.103,00 Ha
Krisis beras di Pohuwato bukan lagi sekadar persoalan harga, melainkan krisis struktural pertanian yang mengancam keberlangsungan hidup ribuan keluarga petani. Jika tidak ada intervensi nyata dan cepat dari pemerintah, maka gelombang kebangkrutan bisa menjadi bencana kemanusiaan berikutnya.















