Scroll untuk baca berita
Hukum

Diplomasi Baru Vatikan: Amnesti Hasto dan Jalan Lunak Menuju Perdagangan Global

×

Diplomasi Baru Vatikan: Amnesti Hasto dan Jalan Lunak Menuju Perdagangan Global

Sebarkan artikel ini
Connie Rahakundini Bakrie. Dok.Pribadi/Hibata.id
Connie Rahakundini Bakrie. Dok.Pribadi/Hibata.id

Oleh: Connie Rahakundini Bakrie – Guru Besar Hubungan Internasional, Departement of World Politics, St. Petersburg State University, Russia

Vatikan kian memperkuat peran diplomatiknya di panggung global melalui jalur non-tradisional. Dari pemberian amnesti politik kepada Hasto Kristiyanto hingga terpilihnya Paus asal Amerika, Takhta Suci menunjukkan strategi baru dalam mempengaruhi negosiasi perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Vatikan kini tak lagi sekadar otoritas moral global. Di bawah kepemimpinan Paus asal Amerika, institusi ini menegaskan diri sebagai simpul kekuatan lunak (soft power) dalam geopolitik dan perdagangan internasional.

Kasus pemberian amnesti kepada politisi Indonesia Hasto Kristiyanto menjadi titik balik penting dalam keterlibatan Vatikan secara halus namun signifikan dalam diplomasi dagang antara Jakarta dan Washington.

Agama sebagai Jalur Diplomasi Global

Selama ini, agama jarang dilibatkan dalam kebijakan ekonomi. Namun teori soft power Joseph Nye menyebut bahwa pengaruh dapat terbentuk melalui daya tarik nilai, bukan hanya kekuatan militer atau ekonomi.

Dalam konteks ini, Vatikan memainkan peran sebagai aktor global yang memadukan legitimasi moral dengan strategi diplomatik baru.

Amnesti terhadap Hasto Kristiyanto, yang diberikan Presiden Prabowo Subianto usai penangkapan kontroversial pada malam Natal 2024, membuka ruang analisis baru. Penangkapan itu menimbulkan ketegangan di kalangan umat Kristiani.

Baca Juga:  Judi Bareng di Bulan Ramadhan, Oknum Kades Ditangkap Polisi

Meski Takhta Suci tidak mengeluarkan protes resmi, keresahan di lingkungan gereja dan komunitas internasional menjadi sinyal kuat. Amnesti kemudian dimaknai bukan sekadar keputusan politik, melainkan bagian dari upaya memulihkan relasi simbolik antara negara dan Gereja.

Paus Amerika dan Diplomasi Ekonomi

Setelah wafatnya Paus Fransiskus pada April 2025, konklaf Vatikan secara mengejutkan memilih Paus asal Amerika Serikat hanya dalam waktu 26 jam—tercepat dalam sejarah modern. Isyarat dramatis datang dari mantan Presiden AS Donald Trump yang, dengan jubah Paus di layar media, menyuarakan perlunya pemimpin gereja dari Amerika.

Menurut sumber internal Gereja, narasi Trump mencerminkan kebutuhan strategis:

  1. Gereja Katolik global harus merespons pergeseran geopolitik menuju Amerika.

  2. Paus dari AS membuka ruang diplomasi baru di tengah meningkatnya proteksionisme ekonomi.

  3. Gereja dapat menjadi penghubung antara pemerintah lokal dan Vatikan dalam isu perdagangan.

Hasilnya, Vatikan kini lebih terbuka dalam isu-isu ekonomi lintas negara, termasuk perjanjian tarif dan kerja sama dagang.

Indonesia Menangkap Peluang

Baca Juga:  Anggota DPRD Bonebol Aktif dari NasDem Masuk Bui, ini Kasusnya

Merespons momentum tersebut, pemerintah Indonesia segera mengirim delegasi dagang ke Washington. Meski tidak secara eksplisit menyebut Vatikan, peningkatan harmoni diplomatik terasa jelas. Delegasi Indonesia bertemu dengan berbagai tokoh politik dan bisnis, termasuk yang berafiliasi erat dengan lingkaran Katolik dan kubu konservatif AS.

Hasilnya signifikan: tarif impor Indonesia ke AS turun dari 19 persen menjadi 10 persen dalam hitungan minggu. Tak lama kemudian, amnesti terhadap Hasto diumumkan—langkah politik yang juga terbaca sebagai sinyal pemulihan hubungan strategis dengan Gereja.

Istilah “Negosiasi Tahap Kedua” pun muncul, mengacu pada diplomasi lanjutan dengan tujuan penurunan tarif hingga nol persen, dengan Vatikan sebagai mediator informal namun berpengaruh.

Takhta Suci di Era Baru Diplomasi

Peran aktif Vatikan bukan hal baru. Dalam sejarah, Takhta Suci telah memediasi Perang Dingin, mendorong rekonsiliasi di Amerika Latin, serta memperjuangkan hak asasi manusia. Namun, yang membedakan hari ini adalah keterlibatan Vatikan secara eksplisit dalam isu perdagangan.

Soft power ala Nye kembali relevan: kekuatan berbasis legitimasi, bukan paksaan. Kini, Vatikan tidak hanya menawarkan validasi etis, tetapi juga akses strategis dalam percaturan global.

Baca Juga:  Rp 50 Juta Peralat, Ajudan Kapolda Gorontalo Diduga Atur Setoran di PETI Hulawa

Penutup: Iman, Strategi, dan Globalisasi Baru

Amnesti Hasto Kristiyanto, penurunan tarif impor, serta terpilihnya Paus asal Amerika menjadi satu rangkaian diplomasi lunak yang menunjukkan arah baru hubungan internasional. Gereja Katolik yang dulu hanya berperan sebagai aktor spiritual, kini menjadi penghubung strategis dalam arsitektur perdagangan global.

Bagi Indonesia, keterlibatan aktif dengan Vatikan mencerminkan model diplomasi baru—di mana narasi iman berpadu dengan strategi negara. Di tengah ketegangan global dan meningkatnya nasionalisme, Takhta Suci hadir sebagai satu dari sedikit aktor transnasional yang masih mampu menjembatani etika dan kepentingan geopolitik.

Daftar Referensi:

  • Nye, Joseph S. Soft Power: The Means to Success in World Politics. PublicAffairs, 2004.

  • Philpott, Daniel. The Politics of Past Evil: Religion, Reconciliation, and the Dilemmas of Transitional Justice. University of Notre Dame Press, 2006.

  • Rahardjo, Bayu. “Penangkapan Hasto di Malam Natal Dinilai Lukai Etika Politik dan Agama.” Kompas, 26 Desember 2024.

  • “Vatican Elects First American Pope in Fastest Conclave in History.” Vatican News, 8 Mei 2025.

 

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel