Nusantara

Sejarah dan Tradisi Maulid Nabi: Dari Arab hingga Nusantara

×

Sejarah dan Tradisi Maulid Nabi: Dari Arab hingga Nusantara

Sebarkan artikel ini
Sejarah dan Tradisi Maulid Nabi/Hibata.id
Sejarah dan Tradisi Maulid Nabi/Hibata.id

Hibata.id – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW telah dikenal masyarakat Muslim sejak berabad-abad lalu, dengan ragam tradisi yang terus hidup hingga kini, termasuk di Indonesia.

Momen ini dipandang sebagai sarana spiritual dan edukasi untuk meneladani ajaran Rasulullah SAW.

Scroll untuk baca berita

Sejumlah catatan sejarah menyebutkan, peringatan Maulid Nabi SAW sudah dilakukan sejak awal Islam. Ahmad Tsauri dalam buku Sejarah Maulid Nabi (2015) menyebut, tradisi tersebut telah dikenal sejak tahun kedua Hijriah.

Baca Juga:  Waisak 2025, Momen Sakral Umat Buddha untuk Refleksi dan Harmoni Budaya

Pandangan ini merujuk pada kitab Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa karya Nuruddin Ali.

Disebutkan bahwa Khaizuran atau Jurasyiyah binti ‘Atha (170 H/786 M), istri Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas sekaligus ibu dari Musa al-Hadi dan Harun al-Rasyid, pernah memerintahkan masyarakat Madinah mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi.

Baca Juga:  Tradisi Slametan Pengantin Jawa: Makna Spiritual dan Simbol Harmoni dalam Pernikahan

Dari Madinah, Khaizuran melanjutkan perintah serupa kepada masyarakat Mekkah agar merayakan Maulid di rumah-rumah.

Baca Juga:  Dari Doa ke Balap Karung: Warna-warni Perayaan Lebaran Ketupat di Gorontalo

Pengaruh besar Khaizuran menjadikan Maulid Nabi SAW sebagai perayaan yang mampu menggerakkan masyarakat Muslim. Perayaan tersebut bertujuan menjaga keteladanan, ajaran, dan kepemimpinan Rasulullah agar terus menginspirasi umat Islam.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel