Scroll untuk baca berita
Nusantara

Jejak Sejarah Walima, Tradisi Maulid Nabi yang Hidup di Tanah Gorontalo

×

Jejak Sejarah Walima, Tradisi Maulid Nabi yang Hidup di Tanah Gorontalo

Sebarkan artikel ini
alam perkembangannya, tolangga juga dihiasi dengan penganan modern seperti cokelat kemasan dan mie instan, buah-buahan dan kebutuhan pokok lainnya. MC Prov. Gorontalo/Haris/Hibata.id
Dalam perkembangannya, tolangga juga dihiasi dengan penganan modern seperti cokelat kemasan dan mie instan, buah-buahan dan kebutuhan pokok lainnya. MC Prov. Gorontalo/Haris/Hibata.id

Hibata.id – Di tanah yang dijuluki Serambi Madinah, masyarakat Gorontalo telah berabad-abad melestarikan tradisi Walima setiap Maulid Nabi Muhammad SAW.

Lebih dari sekadar perayaan, Walima adalah cermin perjalanan sejarah Islam yang menyatu dengan budaya lokal.

Tradisi Walima diyakini mulai berkembang sejak Islam pertama kali masuk ke Gorontalo pada abad ke-15 hingga 16.

Saat itu, para ulama dan pemimpin adat menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum dakwah, sekaligus ruang kebersamaan umat.

Ciri khas Walima terletak pada Tolangga dan Toyopo. Tolangga, rangkaian kayu yang dibentuk menyerupai menara atau perahu melambangkan kejayaan dan perjalanan dakwah Islam.

Baca Juga:  80 Tahun RI Merdeka, UMKM Rumahan Jadi Garda Depan Ekonomi Nasional

Sementara Toyopo, keranjang anyaman daun kelapa, menjadi simbol kesederhanaan hidup sekaligus wadah berbagi rezeki.

Seiring waktu, isi Tolangga pun merekam jejak perubahan zaman. Dulu, masyarakat mengisinya dengan makanan tradisional seperti kolombengi, cucur, apangi, serta nasi kuning dengan lauk ayam dan ikan.

Kini, Tolangga juga berisi mi instan, minyak goreng, minuman bersoda, hingga pasta gigi, mencerminkan pergeseran sosial-ekonomi masyarakat modern.

“Adat ini adalah bukti nyata kecintaan masyarakat Gorontalo kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus rasa syukur kepada Allah SWT. Tradisi ini diwariskan turun-temurun, dan tetap relevan hingga sekarang,” tutur Rostin Tanip, pemuka agama Gorontalo.

Baca Juga:  10 Pahlawan Nasional yang Mengubah Arah Sejarah Bangsa Indonesia

Pada masa lalu, Walima digelar sederhana di rumah-rumah penduduk. Namun, sejak pertengahan abad ke-20, perayaan beralih ke masjid-masjid agar dapat diikuti lebih luas dan mempererat ukhuwah Islamiyah.

“Dulu hanya di rumah, kini di masjid. Perubahan ini memperkuat silaturahmi warga. Jadi Walima bukan sekadar syukuran, tetapi juga ruang perjumpaan umat,” kata Rostin menambahkan.

Walima telah menempati posisi penting dalam sejarah Gorontalo. Julukan “Serambi Madinah” lahir dari kuatnya praktik Islam yang berpadu dengan adat.

Tradisi ini sekaligus menegaskan identitas Gorontalo sebagai pusat peradaban Islam di kawasan timur Indonesia.

Baca Juga:  Legenda Mistis Kuyang di Kalimantan, Antara Mitos dan Kepercayaan

Bahkan, sejumlah sejarawan menilai Walima bukan hanya perayaan religius, melainkan representasi hubungan erat antara dakwah, adat, dan gotong royong.

Nilai-nilai itu masih terasa hingga kini, meski bentuk dan isi Tolangga mengalami transformasi sesuai zaman.

Jejak sejarah Walima membuktikan bagaimana masyarakat Gorontalo mampu menjaga warisan Islam dan adat secara bersamaan.

Dari rumah sederhana hingga masjid megah, dari kue tradisional hingga kebutuhan modern, Walima tetap menjadi simbol syukur, persatuan, dan identitas budaya religius Gorontalo.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel