Scroll untuk baca berita
Nusantara

Etnobiologi Pangan Fungsional Berbasis Kearifan Lokal Suku Bajo Torosiaje, Gorontalo

×

Etnobiologi Pangan Fungsional Berbasis Kearifan Lokal Suku Bajo Torosiaje, Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Etnobiologi Pangan Fungsional Berbasis Kearifan Lokal Suku Bajo Torosiaje, Gorontalo/Hibata.id
Etnobiologi Pangan Fungsional Berbasis Kearifan Lokal Suku Bajo Torosiaje, Gorontalo/Hibata.id

Hibata.id – Kearifan lokal masyarakat pesisir kembali menjadi perhatian publik, terutama yang datang dari komunitas Suku Bajo Torosiaje di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo.

Suku yang dikenal dengan kehidupan baharinya ini ternyata menyimpan segudang pengetahuan tradisional yang tidak hanya sarat dengan nilai budaya, tetapi juga memiliki makna mendalam bagi kesehatan dan keberlanjutan hidup.

Melalui praktik etnobiologi pangan fungsional yang diwariskan secara turun-temurun, masyarakat Bajo telah sejak lama menerapkan pola konsumsi yang unik dan penuh makna, di mana setiap jenis pangan yang mereka pilih dan olah tidak sekedar untuk memenuhi rasa lapar, melainkan juga untuk menjaga keseimbangan tubuh, memperkuat stamina, serta meningkatkan daya tahan terhadap kerasnya tantangan hidup di laut.

Tradisi ini tidak lahir dari teori ilmiah modern, melainkan dari interaksi panjang dengan alam dan pengalaman kolektif yang kemudian membentuk pengetahuan lokal yang kaya serta terbukti relevan hingga kini.

Salah satu pangan fungsional khas Bajo adalah ikan pari (Ray Fish), tidak diolah dengan cara modern. Masyarakat Bajo hanya mencincang daging pari, lalu menambahkan perasan kulit mangrove, dan memakannya mentah.

Baca Juga:  Cara Unik Pasar Hewan di Bone Bolango Pikat Pembeli Jelang Idul Adha

Tradisi ini dipercaya mampu meningkatkan energi, memperkuat otot, dan menambah stamina nelayan yang sehari-hari hidup bergelut dengan laut. Selain itu, terdapat kima (Tridacna sp.), sejenis kerang raksasa yang dikonsumsi dalam keadaan mentah atau “titta”.

Bagi Suku Bajo, kima bukan sekedar hidangan laut, melainkan sumber protein dan mineral yang diyakini memperkuat daya tahan tubuh serta mempercepat pemulihan setelah aktivitas berat.

Tidak hanya laut, daratan pesisir juga memberi manfaat. Daun gaganga (Sesuvium portulacastrum) menjadi salah satu sayur favorit. Setelah dicuci, direbus, diremas, dan dimasak dengan tambahan bumbu serta santan.

Gaganga hadir sebagai hidangan bergizi yang menjaga kesehatan sekaligus menjadi simbol kesederhanaan pangan lokal. Adapun dari umbi-umbian, Suku Bajo memanfaatkan ubi teo (Tacca leontopetaloides).

Setelah melalui proses panjang—perendaman, pemarutan, penyaringan, dan pencucian berulang—ubi teo diolah menjadi tepung yang bebas rasa pahit dan berwarna kuning.

Baca Juga:  Makam Keramat Ju Panggola di Gorontalo Mulai Ramai Jelang Ramadan

Tepung ini menjadi bahan utama aneka pangan tradisional seperti kolak teo, kapuru, hingga papi. Bagi masyarakat Bajo, ubi teo adalah sumber karbohidrat utama yang menopang kebutuhan energi sehari-hari.

Peluang melakukan eksplorasi pemahaman pangan fungsional bagi masyarakat Suku Bajo melalui Riset Kolaborasi LPTKI antara Universitas Negeri Gorontalo dan Universitas Negeri Semarang mendapatkan fakta bahwa praktik pangan fungsional ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal masyarakat Bajo sejalan dengan konsep kesehatan modern.

“Tradisi makan mereka sebenarnya mengandung filosofi menjaga stamina, kekebalan, dan keseimbangan gizi, jauh sebelum istilah pangan fungsional dikenal di dunia akademik,” ujar Prof. Margaretha Solang salah satu peneliti Universitas Negeri Gorontalo.

Pemerintah daerah menaruh perhatian serius terhadap praktik pangan tradisional yang diwarisi masyarakat Suku Bajo, karena di balik kesederhanaannya tersimpan peluang besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru.

Dengan sentuhan inovasi modern yang tepat, berbagai produk pangan khas Bajo tidak hanya akan tetap berfungsi sebagai penjaga warisan budaya dan identitas lokal, tetapi juga dapat bertransformasi menjadi komoditas unggulan yang memiliki daya saing tinggi di pasar yang lebih luas.

Baca Juga:  Polwan Gorontalo Raih Juara 1 Lomba Keagamaan Solo Lagu Kristiani

Upaya ini diyakini tidak hanya mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat pesisir melalui peningkatan pendapatan dan pemberdayaan ekonomi lokal, tetapi juga sekaligus membuka jalan bagi Gorontalo untuk tampil sebagai pusat pengembangan pangan fungsional berbasis etnobiologi di tingkat nasional bahkan internasional, sebuah peran strategis yang menggabungkan potensi alam, kearifan lokal, dan inovasi sains modern dalam satu kesatuan yang saling menguatkan.

Kisah Suku Bajo Torosiaje mengingatkan bahwa laut dan alam sekitar bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga apotek alami yang menyehatkan.

Dari pari hingga gaganga, dari kima hingga ubi teo, setiap hidangan menyimpan jejak kearifan leluhur yang layak dijaga, diteliti, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel