Hibata.id – Kematian Muhammad Jaksen, mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) usai mengikuti Pendidikan dan Latihan Dasar (Diksar) Mapala Butaiyo Nusa FIS-UNG, mendapat banyak kritikan.
DPP Ikatan Alumni (IKA) UNG pun ikuti angkat bicara. Mereka meminta kasus ini diusut tuntas karena diduga ada unsur kekerasan dalam proses pengkaderan.
Sekretaris Jenderal DPP IKA UNG, Femmy Udoki, menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden tersebut.
Ia menilai pihak panitia harus bertanggung jawab apabila benar terjadi tindak kekerasan selama kegiatan berlangsung.
“Saya menduga ada kekerasan selama pengkaderan. Sehingga pihak panitia juga harus bertanggung jawab,” kata Femmy kepada Hibata.id Selasa (23/9/2025).
Femmy, yang juga Ketua MD KAHMI Kota Gorontalo, mendesak pihak kampus lebih ketat mengawasi kegiatan organisasi mahasiswa. Baik intra maupun ekstra kampus, agar kejadian serupa tidak terulang.
“Hal ini sebagai antisipasi jangan sampai kejadian seperti yang dialami Jaksen terulang,” tegasnya.
Ia juga menyarankan agar pihak kampus memanggil pengurus Mapala yang menyelenggarakan Diksar.
Bahkan, menurutnya, langkah pembekuan organisasi bisa dipertimbangkan apabila terbukti ada pelanggaran serius.
“Kalau perlu bekukan saja itu Mapala jika proses kaderisasinya bisa membahayakan,” ujarnya menambahkan.
IKA UNG menegaskan, pengusutan tuntas kasus ini bukan hanya untuk mencari keadilan bagi almarhum Muhammad Jaksen.
Tetapi juga menjamin keselamatan mahasiswa dalam mengikuti kegiatan organisasi di lingkungan kampus Universitas Negeri Gorontalo.
Kasus kematian mahasiswa dalam kegiatan pendidikan dasar pecinta alam sebelumnya juga pernah terjadi di sejumlah kampus di Indonesia.
Aktivitas pengkaderan yang tidak terkontrol kerap menjadi sorotan karena terlalu berisiko menimbulkan kekerasan fisik maupun psikis.












