Scroll untuk baca berita
Nusantara

10 Pahlawan Nasional yang Mengubah Arah Sejarah Bangsa Indonesia

×

10 Pahlawan Nasional yang Mengubah Arah Sejarah Bangsa Indonesia

Sebarkan artikel ini
10 Pahlawan Era Pergerakan Nasional/Hibata.id
10 Pahlawan Era Pergerakan Nasional/Hibata.id

Hibata.id – Indonesia memiliki sejarah panjang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Di balik kemerdekaan yang kini dinikmati seluruh rakyat, tersimpan kisah heroik ribuan pahlawan nasional Indonesia yang rela berkorban jiwa dan raga demi cita-cita bangsa merdeka dan berdaulat.

Dari Sabang sampai Merauke, para pejuang lahir dari berbagai latar belakang, suku, dan agama. Mereka disatukan oleh satu tekad: membebaskan tanah air dari penjajahan. Perjuangan mereka tidak hanya di medan perang, tetapi juga melalui pendidikan, diplomasi, dan pemikiran kebangsaan.

Pahlawan Pergerakan Nasional dan Peran Besarnya bagi Indonesia

1. Raden Ajeng Kartini (1879–1904)

Putri Bupati Jepara ini dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan Indonesia. Melalui kumpulan suratnya Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menyuarakan pentingnya pendidikan dan kesetaraan bagi perempuan pribumi.
Ia mendirikan sekolah bagi anak perempuan dan menjadi inspirasi gerakan perempuan Indonesia hingga kini.

Baca Juga:  Sejarah dan Tradisi Maulid Nabi: Dari Arab hingga Nusantara

2. Ki Hajar Dewantara (1889–1959)

Lahir sebagai Raden Mas Soewardi Soerjaningrat di Yogyakarta, Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa — lembaga pendidikan yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan budaya lokal.
Semboyannya “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” menjadi dasar filosofi pendidikan nasional Indonesia.

3. H.O.S. Tjokroaminoto (1882–1934)

Sebagai pemimpin Sarekat Islam, Tjokroaminoto dikenal sebagai “guru bangsa”. Tokoh-tokoh besar seperti Soekarno pernah berguru padanya. Ia memperjuangkan kemerdekaan melalui jalur politik dan mengembangkan konsep sosialisme Islam yang menekankan keadilan dan persatuan.

4. Dewi Sartika (1884–1947)

Pahlawan pendidikan asal Bandung ini mendirikan Sekolah Istri pada 1904 untuk memperjuangkan hak pendidikan perempuan. Sekolah tersebut berkembang di berbagai daerah dan menjadi tonggak kebangkitan pendidikan kaum perempuan di masa penjajahan.

Baca Juga:  Lebaran Ketupat Gorontalo, Tradisi Jaton yang Kini Menjadi Milik Bersama

5. Dr. Wahidin Sudirohusodo (1852–1917)

Sebagai dokter pribumi pertama, Dr. Wahidin mendirikan Budi Utomo, organisasi modern pertama di Indonesia. Ia menggagas Studie Fonds, dana beasiswa bagi pelajar pribumi. Gagasan ini menjadi benih lahirnya kesadaran nasional di kalangan intelektual Indonesia.

6. Dr. Cipto Mangunkusumo (1886–1943)

Tokoh medis dan politik ini mendirikan Indische Partij bersama Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara. Partai ini secara terbuka menuntut kemerdekaan Indonesia. Meski berkali-kali diasingkan, Cipto tetap menulis dan berjuang lewat gagasan progresifnya.

7. Wage Rudolf Supratman (1903–1938)

Melalui karya musik, Supratman membangkitkan semangat nasionalisme. Lagu Indonesia Raya yang ia ciptakan pertama kali berkumandang pada Kongres Pemuda II tahun 1928, menjadi simbol persatuan bangsa.

8. Mohammad Husni Thamrin (1894–1941)

Baca Juga:  Kain Tenun Sutra Sengkang, Warisan Budaya Bugis dari Kampung Penenun Wajo

Sebagai anggota Volksraad, Thamrin vokal membela hak rakyat Indonesia. Ia mendirikan organisasi Kaum Betawi dan aktif memperjuangkan kesejahteraan masyarakat. Thamrin wafat dalam tahanan kolonial karena perjuangannya dianggap mengancam kekuasaan penjajah.

9. Dr. Sutomo (1888–1938)

Pendiri Budi Utomo ini berperan penting dalam peningkatan kesejahteraan rakyat melalui pendidikan dan layanan kesehatan. Sebagai dokter, ia dikenal karena memberikan pengobatan gratis kepada masyarakat miskin dan memperjuangkan kemerdekaan lewat karya nyata.

10. Ernest Douwes Dekker (1879–1950)

Keturunan Indo-Eropa ini memihak perjuangan bangsa Indonesia. Bersama Cipto dan Dewantara, ia mendirikan Indische Partij. Setelah kemerdekaan, ia mengganti namanya menjadi Danudirja Setiabudi dan tetap aktif membangun politik nasional Indonesia yang berdaulat.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel