Scroll untuk baca berita
Kabar

Menu MBG di Suwawa Terlalu Mini, Porsinya Layaknya Makanan Kucing

×

Menu MBG di Suwawa Terlalu Mini, Porsinya Layaknya Makanan Kucing

Sebarkan artikel ini
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai terlalu sedikit/Hibata.id
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai terlalu sedikit/Hibata.id

Hibata.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dirancang untuk membantu pemenuhan gizi anak-anak sekolah kini ikut menjadi bahan obrolan warga di Desa Ulanta, Kecamatan Suwawa.

Bukan karena antreannya panjang, bukan juga karena menunya aneh. Melainkan karena porsinya yang dinilai terlalu sedikit laayaknya makanan kucing.

Rabu (12/2/2026), menu MBG yang dibagikan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Ulanta sebenarnya sudah lengkap secara teori. Ada sayur, ada buah, ada lauk, dan tentu saja ada sumber protein.

Namun di mata sebagian warga, teori itu terasa berbeda ketika sampai di atas Food Tray MBG.

“Kalau dilihat memang ada sayur, ada buah, ada lauk. Tapi porsinya terlalu kecil,” kata seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Baca Juga:  PETI di Pohuwato Dibakarkan Diterbitkan, Tapi Polisi Tak Membenarkan

Menu hari itu terdiri atas sepotong tahu, potongan semangka, sayur dalam porsi terbatas, serta lauk dengan ukuran yang menurut warga belum mencukupi.

Secara komposisi, unsur gizi memang terpenuhi. Tetapi bagi sebagian warga, ukuran tetap menjadi soal.

Mereka berharap program dengan nama besar dan tujuan mulia itu juga hadir dengan porsi yang terasa cukup di perut.

Dari Piring ke Dapur: Pengadaan Ikut Disorot

Cerita tidak berhenti di atas piring. Warga juga mulai menoleh ke dapur.

Mereka mempertanyakan bagaimana proses pengadaan bahan makanan dilakukan.

Berdasarkan informasi yang beredar, yayasan pengelola SPPG Ulanta menangani sendiri pengadaan bahan baku tanpa melibatkan pemasok tetap.

Bagi sebagian warga, pola ini menimbulkan pertanyaan soal kontrol kualitas dan transparansi.

Baca Juga:  Usai Viral, Ini Penjelasan Mengejutkan dari Oknum ASN Gorut yang Dituduh Perkosa Siswa

“Pengadaan barang dan jasa ditangani sendiri oleh yayasan. Kalau semua diatur sendiri, kontrol kualitas bisa lemah,” ujar warga tersebut.

Padahal sebelumnya, pemerintah mendorong agar program MBG turut menggandeng pelaku usaha lokal, petani, dan peternak agar roda ekonomi desa ikut berputar bersama program tersebut.

Pihak Yayasan dan SPPG Beri Penjelasan

Menanggapi keluhan tersebut, Ketua Yayasan pengelola SPPG Ulanta, Sofyan, memastikan pihaknya tidak tinggal diam.

Ia mengatakan keluhan warga sudah ditindaklanjuti.

“Tadi sudah dikonfirmasi oleh kepala SPPG,” kata Sofyan.

Kepala SPPG Ulanta, Amal, juga turun langsung ke sekolah penerima manfaat untuk memastikan kondisi di lapangan.

“Saya sudah kunjungi sekolahnya. Ternyata mereka tidak masalah dengan porsinya,” ujar Amal.

Terkait mekanisme pengadaan bahan baku, Amal membenarkan yayasan mengelola proses tersebut secara langsung.

Baca Juga:  Mosi Tidak Percaya Kader IMM Pohuwato: Kritik Keputusan DPD IMM Gorontalo

“Untuk supplier itu sudah di-handle oleh yayasan. Yayasan sendiri yang mengadakan,” katanya.

Program Nasional, Harapan Besar

Program MBG merupakan salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan.

Di berbagai daerah, program ini mendapat sambutan positif. Namun seperti program besar lainnya, pelaksanaan di lapangan kerap menghadirkan dinamika tersendiri.

Di Bone Bolango, diskusi tentang MBG kini tidak hanya soal menu, tetapi juga soal ukuran dan pengelolaan.

Karena bagi sebagian orang, gizi memang penting. Tapi rasa kenyang juga tidak kalah penting.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel