Scroll untuk baca berita
Kabar

Alasan Pemerintah Minta Alfamart dan Indomaret Stop Tambah Gerai di Desa

×

Alasan Pemerintah Minta Alfamart dan Indomaret Stop Tambah Gerai di Desa

Sebarkan artikel ini
Alasan Kemenkop Minta Alfamart dan Indomaret Hentikan Ekspansi Gerai di Desa/Hibata.id
Alasan Kemenkop Minta Alfamart dan Indomaret Hentikan Ekspansi Gerai di Desa/Hibata.id

Hibata.id – Kementerian Koperasi (Kemenkop) meminta gerai ritel modern seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) tidak menambah gerai baru di wilayah desa.

Wakil Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan langkah itu diambil agar Koperasi Desa (Kopdes) bisa menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat.

Scroll untuk baca berita

“Jadi saya pernah ketemu dengan yang punya retail modern yang sebelah sana, saya bilang stop bikin retail modern di desa, biarkan di desa itu si kooperasi desa yang jualan retail barang-barangnya,” kata Ferry dalam kanal YouTube IDN Times, dikutip Jumat (20/2).

Menurut Ferry, koperasi desa memberi manfaat langsung bagi warga karena keuntungan usaha kembali ke anggota. Berbeda dengan ritel modern yang keuntungannya mengalir ke pemegang saham di kota besar.

Baca Juga:  PPPK Paruh Waktu Tetap Terima THR dan Gaji ke-13, Ini Dasar Hukumnya

Ia mengaku sudah menyampaikan langsung hal tersebut kepada pelaku ritel modern. Kemenkop juga mendorong koperasi desa menjadi pelaku utama penjualan kebutuhan sehari-hari. Sementara produk yang belum bisa diproduksi koperasi tetap dapat dipasok dari peritel modern.

Saham AMRT dan DNET Melemah

Usai pernyataan tersebut, saham AMRT ditutup turun 4,21 persen atau 80 poin ke level 1.820. Secara tahun berjalan (ytd), saham AMRT telah melemah 7,85 persen.

Sementara saham DNET turun 1,66 persen atau 150 poin ke posisi 8.875 dan terkoreksi 2,20 persen secara ytd.

Hingga Januari 2026, Alfamart mengoperasikan lebih dari 21.120 gerai di seluruh Indonesia melalui 34 kantor cabang. Adapun jumlah gerai Indomaret per awal 2025 mencapai lebih dari 23.100 unit.

Baca Juga:  48 Warga Terjangkit Malaria, Tapi PETI Dengilo Masih Beroperasi

Ferry juga menantang pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di desa untuk memproduksi kebutuhan rumah tangga seperti sabun, sampo, deterjen, kecap, saus, hingga sambal.

Pemerintah akan menyiapkan ekosistem pendukung, mulai dari kurasi produk hingga akses pembiayaan, agar generasi muda dapat membentuk koperasi produktif.

Sebelumnya, Ferry menyampaikan mayoritas atau lebih dari 60 ribu bangunan fisik Koperasi Desa Merah Putih akan dibangun dengan desain tunggal. Sekitar 20 ribu unit lainnya akan disesuaikan dengan kondisi desa masing-masing.

“Setelah kami memulai konstruksi pada tanah dengan standar yang ideal, kami baru akan membangun bangunan fisik sesuai dengan kondisi geografis dan karakter masing-masing desa,” kata Ferry dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Selasa (18/11).

Baca Juga:  Indosat Ooredoo Hutchison Dorong Kedaulatan AI Lewat Empowering Indonesia Report 2025

Ia menargetkan setiap koperasi selesai dibangun dalam waktu tiga bulan agar bisa beroperasi pada Maret–April 2026. Standar lahan untuk pembangunan Kopdes Merah Putih minimal seluas 1.000 meter persegi dan berada di lokasi strategis desa.

Tahun ini, sebanyak 25 ribu unit mulai dibangun dan jumlahnya ditargetkan meningkat menjadi 60 ribu unit pada tahap berikutnya. Pemerintah juga telah memetakan desa yang memerlukan desain khusus.

Kemenkop berharap penguatan koperasi desa dapat menjaga perputaran ekonomi tetap berada di desa sekaligus memperluas peluang usaha bagi masyarakat setempat.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel