Nusantara

Mengenal Bili’u, Busana Adat Gorontalo Viral dari Prewedding El Rumi–Syifa Hadju

×

Mengenal Bili’u, Busana Adat Gorontalo Viral dari Prewedding El Rumi–Syifa Hadju

Sebarkan artikel ini
El Rumi dan Syifa Hadju/Hibata.id
El Rumi dan Syifa Hadju/Hibata.id

Hibata.id – El Rumi dan Syifa Hadju menghadirkan nuansa berbeda dalam sesi prewedding mereka. Keduanya memilih adat Gorontalo sebagai konsep utama, menghadirkan perpaduan keindahan visual dengan kekayaan sejarah dan filosofi budaya.

Dalam unggahan di Instagram Sabtu (4/4/2026), Syifa Hadju tampil memikat mengenakan Bili’u, busana adat pengantin perempuan Gorontalo.

Warna merah yang ia kenakan tidak sekadar estetika, tetapi melambangkan keberanian, kehormatan, dan kesiapan memasuki kehidupan baru.

Busana tersebut dipadukan dengan perhiasan emas bertingkat, mulai dari ikat pinggang, kalung, hingga gelang.

Di bagian kepala, tersemat Tuhi-tuhi mahkota khas dengan tujuh gafah yang mencerminkan persatuan kerajaan-kerajaan Gorontalo di masa lalu.

Baca Juga:  Patriotik 23 Januari, Ketika Merah Putih Berkibar Lebih Awal di Tanah Gorontalo

Riasan wajah Syifa tampil tegas namun tetap elegan. Teknik smokey eyes memberi dimensi dramatis pada tatapan, sementara lipstik merah menegaskan karakter kuat yang selaras dengan filosofi busana yang dikenakan.

Di sisi lain, El Rumi tampil gagah dalam balutan Makuta, busana adat pria Gorontalo.

Ia mengenakan baju kurung dan celana panjang yang dilengkapi ikat pinggang emas serta sebilah keris sebagai simbol kehormatan dan tanggung jawab.

Penampilan El semakin kuat dengan Paluwala, penutup kepala khas yang menjulang dan dihiasi manik-manik.

Elemen ini tidak hanya memperindah tampilan, tetapi juga mencerminkan status dan kewibawaan dalam tradisi Gorontalo.

Baca Juga:  Menjelajah Nusantara: Touring dari Kendari hingga Kilometer Nol Sabang

Keduanya tampak serasi dengan latar bernuansa emas yang mempertegas kesan megah.

Perpaduan warna merah dan emas menghadirkan aura bangsawan yang kuat, seolah menghidupkan kembali kejayaan masa lalu Gorontalo dalam balutan modern.

Bili’u bukan sekadar busana pengantin. Dalam tradisi Gorontalo, Bili’u merupakan simbol puncak dari tata busana adat perempuan.

Setiap detailnya mengandung makna, mulai dari warna, bentuk, hingga susunan ornamen.

Secara historis, Bili’u berasal dari kata bilowato, yang berarti perilaku santun.

Filosofi ini menjadi harapan bagi perempuan yang mengenakannya agar mampu menjaga sikap, kehormatan, dan keharmonisan dalam rumah tangga.

Busana ini juga memiliki kedudukan tertinggi dalam struktur adat karena dilengkapi Tuhi-tuhi, mahkota yang melambangkan persatuan dan kebesaran nilai budaya Gorontalo.

Baca Juga:  Nou dan Uti, Tradisi Panggilan Anak Gorontalo yang Mulai Tergerus Zaman

Pengakuan terhadap nilai budaya tersebut semakin kuat ketika pada 2012, pemerintah menetapkan Bili’u sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pilihan Syifa Hadju mengenakan adat Gorontalo bukan tanpa alasan. Ia memiliki garis keturunan Gorontalo dari pihak ibunya, sehingga konsep ini menjadi bentuk penghormatan terhadap akar budaya keluarga.

Prewedding ini tidak hanya menampilkan estetika visual, tetapi juga menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel