Hibata.id – Hujan ringan yang turun di Desa Botubilotahu, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, kembali mengingatkan warga pada luka lama.
Genangan yang tampak sepele bagi orang luar, menjadi mimpi buruk tahunan yang menghantui mereka sejak 2016.
Selasa (2/9/2025) siang, jalan raya di Dusun Mootilango tak lagi tampak seperti biasanya. Aspal tertutup genangan air, sementara kebun jagung dan warga berubah menjadi kolam dadakan.
Andi, seorang warga, berdiri di depan rumahnya yang sudah dikepung air. Ia menghela napas panjang sambil menunjuk pagar rumah yang separuh terendam.
“Setiap tahun pasti begini, bahkan hujan sedikit saja air langsung naik. Pagar rumah saya sudah sering hilang ditelan banjir, dan tidak jarang air masuk sampai ke dalam,” ujarnya.
Raut wajah Andi memancarkan kelelahan. Ia bercerita bahwa banjir bukan hanya soal genangan, melainkan juga tentang rasa cemas. Hujan yang semestinya jadi berkah, kini justru menjadi isyarat bencana.

Menurut Andi, banjir tidak hanya disebabkan hujan. Ia menduga aktivitas perusahaan yang membuka jalur di kawasan hutan lindung desa tetangga ikut memperburuk keadaan. Aliran air yang semula tertahan hutan, kini langsung mengalir deras ke pemukiman.












