Oleh: Muhamad Rizki Kakilo (Pemuda Sulawesi Tengah)
Peringatan hari ulang tahun ke-62 Provinsi Sulawesi Tengah menjadi momentum refleksi atas capaian pembangunan sekaligus tantangan yang masih dihadapi daerah tersebut.
Pemuda Sulawesi Tengah, Mohamad Rizki Kakilo, menilai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam beberapa tahun terakhir belum sepenuhnya diikuti pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah sempat menembus dua digit, jauh di atas rata-rata nasional. Lonjakan ini didorong sektor industri pengolahan, khususnya hilirisasi nikel di kawasan industri Morowali yang terhubung dengan rantai pasok global kendaraan listrik.
Namun, menurut Rizki, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah siapa yang benar-benar menikmati pertumbuhan tersebut.
“Pertumbuhan yang tinggi belum otomatis menjamin pemerataan kesejahteraan,” ujarnya.
Ia menyoroti, angka kemiskinan di Sulawesi Tengah masih berada di atas rata-rata nasional pada beberapa periode, terutama di wilayah pedesaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya inklusif.
Selain itu, ketimpangan antarwilayah juga semakin terlihat. Kawasan industri seperti Morowali dan Morowali Utara berkembang pesat, sementara daerah lain masih tertinggal dalam akses infrastruktur dan layanan dasar.
Menurut dia, kondisi tersebut mencerminkan persoalan klasik pembangunan, yakni pertumbuhan tanpa pemerataan.
Sejumlah Pekerjaan Rumah
Rizki menilai, terdapat sejumlah pekerjaan rumah besar yang harus segera dibenahi pemerintah daerah.
Pertama, mengatasi ketimpangan ekonomi dan wilayah melalui redistribusi anggaran, penguatan ekonomi desa, serta peningkatan konektivitas antarwilayah.
Kedua, reformasi tata kelola sumber daya alam. Ia menyoroti masih maraknya pertambangan tanpa izin, konflik lahan, hingga kerusakan lingkungan akibat lemahnya pengawasan.
“Eksploitasi berjalan cepat, tetapi regulasi dan pengawasan tertinggal,” katanya.
Ketiga, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, investasi besar tidak akan berdampak signifikan jika tenaga kerja lokal tidak memiliki keterampilan yang memadai.
Ia menilai perlu adanya penguatan pendidikan vokasi, pelatihan kerja berbasis industri, serta peningkatan akses pendidikan dan layanan kesehatan.
Keempat, penguatan mitigasi bencana dan perlindungan lingkungan. Tragedi gempa dan tsunami Palu 2018 disebut menjadi pengingat pentingnya pembangunan yang memperhatikan aspek risiko bencana.
Kelima, perbaikan tata kelola pemerintahan dan upaya pemberantasan korupsi agar pembangunan lebih efektif dan tepat sasaran.
Terakhir, diversifikasi ekonomi dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada sektor tambang, dengan mengembangkan sektor pariwisata, perikanan, pertanian, serta UMKM.
Menentukan Arah Pembangunan
Rizki menilai, di usia ke-62, Sulawesi Tengah berada di persimpangan antara peluang dan tantangan.
Di satu sisi, investasi dan kekayaan sumber daya membuka peluang besar. Namun di sisi lain, ketimpangan, kerusakan lingkungan, dan lemahnya tata kelola masih menjadi ancaman.
“Ulang tahun seharusnya bukan hanya tentang bertambahnya usia, tetapi tentang kedewasaan dalam menentukan arah pembangunan,” ujarnya.
Ia menegaskan, tanpa arah yang jelas dan keberanian untuk berbenah, pertumbuhan ekonomi hanya akan menjadi angka tanpa makna bagi sebagian besar masyarakat.













