Scroll untuk baca berita
Kabar

Dulu Gencar Tolak PETI, Kini Aktivis Lingkungan itu Terlibat Tambang Ilegal di Balayo

×

Dulu Gencar Tolak PETI, Kini Aktivis Lingkungan itu Terlibat Tambang Ilegal di Balayo

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi aktivis lingkungan. (Foto:AI/Hibata.id)
Ilustrasi aktivis lingkungan. (Foto:AI/Hibata.id)

Hibata.id – Seolah menampar wajah gerakan lingkungan, praktik Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Balayo kini tak hanya berlangsung terang-terangan, tetapi juga menyeret nama seorang aktivis yang dulu dikenal vokal menolak aktivitas ilegal tersebut.

Ironisnya, sosok yang pernah berdiri di garda depan menentang PETI itu kini diduga menjadi aktor utama di balik tambang ilegal yang kian merajalela.

Menurut Informasi yang diperoleh Hibata.id, oknum aktivis yang dulu gencar menyerang PETI kini berperan sebagai pengawas lapangan dalam kegiatan tambang ilegal tersebut.

Skandal ini tidak hanya mencoreng nama baik gerakan lingkungan, tetapi juga menjadi ujian moral dan profesional bagi kepolisian di Kabupaten Pohuwato.

Baca Juga:  Pemuda Lolak Ultimatum Pemkab Bolmong: Pembangunan Tanpa PTN Dinilai Gagal Prioritas

Terlebih lagi, kegiatan PETI tersebut berlangsung di lokasi yang cukup sensitif—tak jauh dari jalan trans dan berdekatan dengan aliran sungai yang menjadi sumber utama kehidupan masyarakat sekitar.

Aktivitas tambang ilegal ini tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga membahayakan ketersediaan air bersih yang digunakan oleh warga, terutama petani padi di wilayah hilir.

Aktivis Pohuwato, Isjan Doda, mengecam keras keberadaan tambang ilegal tersebut. Ia menyoroti ironi keterlibatan seorang mantan pegiat lingkungan yang dulu getol menentang PETI.

Baca Juga:  Operasi Lilin Otanaha 2025, Polres Pohuwato Pastikan Personel Siaga Penuh

“Sungguh miris. Aktivis yang dulu bersuara lantang menolak PETI, kini justru terlibat langsung dalam kerusakan lingkungan. Ini bukan sekadar pengkhianatan moral, tapi penistaan terhadap perjuangan kolektif dalam membela ekologi,” kata Isjan.

Menurutnya, keterlibatan sosok tersebut mengindikasikan bahwa di balik retorika penyelamatan lingkungan, tersimpan ambisi pribadi yang kini terungkap: ikut menikmati hasil dari kerusakan yang dulu dikutuknya.

“Alih-alih menjadi penyelamat lingkungan, ternyata tujuannya hanya untuk masuk dan ikut menikmati keuntungan dari kerusakan. Ini memalukan dan mencoreng wajah dunia aktivisme,” tegasnya.

Baca Juga:  Pj Gubernur Gorontalo Larang Pegawainya Jadi Dosen di Luar Jam Kerja

Isjan juga menantang aparat penegak hukum untuk tidak tutup mata. Ia mendesak kepolisian segera menyelidiki dugaan keterlibatan oknum aktivis dalam jaringan PETI.

Menurutnya, pembiaran terhadap aktivitas tambang ilegal merupakan bentuk pelecehan terhadap hukum dan mencederai integritas lembaga penegak hukum itu sendiri.

“Kalau ini dibiarkan, bukan hanya pelaku yang bersalah. Tapi aparat juga patut diduga ikut bermain. Jangan-jangan ada jaringan terselubung antara pelaku PETI dan pihak-pihak yang seharusnya menegakkan hukum,” sindirnya.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel