Hibata.id – Komunitas Arah Langkah Anak Muda (ALAM) menggelar diskusi publik bertajuk “Generasi Muda di Persimpangan: Antara Gelar, Skill dan Nilai Kemanusiaan” sebagai ruang refleksi kritis bagi anak muda terhadap budaya kompetisi yang semakin ketat dan melemahkan solidaritas sosial.
Diskusi tersebut menyoroti kegelisahan generasi muda dalam menghadapi tekanan sosial, tuntutan akademik, dan dunia kerja yang dinilai semakin berorientasi pada hasil tanpa mempertimbangkan aspek kemanusiaan.
Tokoh yang menarik perhatian peserta adalah Khaidir Ali, Sekretaris DPD Sulsel sekaligus mahasiswa pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta. Ia hadir membawakan perspektif sosiologis terkait perubahan struktur sosial akibat logika pasar dan persaingan ekstrem.
“Standar kompetisi saat ini sangat tinggi, padahal tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Akibatnya anak muda terjebak pada individualisme yang seakan wajib demi bertahan hidup,” kata Khaidir dalam diskusi, Minggu (16/11/2025).

Khaidir menilai ketimpangan sosial yang berlangsung terus-menerus membuat generasi muda dipaksa menyesuaikan diri dengan budaya individualisme bukan karena pilihan, tetapi karena tuntutan sosial-ekonomi.
Ia menekankan bahwa kampus dan masyarakat seharusnya menjadi ruang kolektif untuk membangun solidaritas, bukan sekadar arena persaingan tanpa akhir.
“Kampus harus menjadi tempat yang menumbuhkan solidaritas. Dunia kerja pun semestinya menjunjung nilai kemanusiaan, bukan sekadar mengejar produktivitas,” ujarnya.
Khaidir juga mengingatkan bahwa kompetisi tanpa etika dapat melahirkan bentuk kekerasan baru—mulai dari tekanan psikologis hingga kekerasan struktural.
“Jika kompetisi berjalan tanpa kebijaksanaan, maka kita hanya mendorong generasi muda menuju tekanan mental dan perlombaan tanpa arah,” tegasnya.
Diskusi ALAM menyimpulkan bahwa gelar dan keterampilan bukan satu-satunya tolok ukur kesuksesan. Generasi muda membutuhkan ekosistem yang aman, inklusif, dan adil untuk berkembang tanpa kehilangan nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama.
Kegiatan ditutup dengan pesan kolektif bahwa perubahan sistem hanya dapat lahir melalui gerakan bersama.
“Kompetisi tanpa kemanusiaan hanya akan melahirkan kekerasan. Kita membutuhkan kebijaksanaan kolektif untuk membangun masa depan yang lebih manusiawi,” tutur Khaidir.
Melalui agenda ini, ALAM menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang refleksi, kritik, dan keberpihakan bagi generasi muda yang memiliki peranan strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa.












