Hibata.id – Suasana Rapat Paripurna DPRD itu terasa berbeda. Ruangan yang biasanya dipenuhi tumpukan agenda formal hari itu berubah menjadi tempat refleksi.
Di tengah peringatan HUT ke-25 Provinsi Gorontalo, Wakil Ketua I DPRD, Ridwan Monoarfa, menyampaikan sesuatu yang lebih dari sekadar pesan seremonial.
Ia baru saja duduk kembali dari podium ketika ditanya bagaimana ia melihat perjalanan Gorontalo selama 25 tahun. Ridwan tidak langsung bicara soal kemeriahan, tetapi justru soal evaluasi.
“Sekarang APBD kita sudah tembus Rp1,7 triliun. Dua puluh lima tahun lalu, kita hanya bermain di sekitar Rp500 miliar,” ujarnya sambil menghela napas kecil.
“Angka itu besar, tapi peningkatan anggaran tidak otomatis berarti pembangunan kita sudah selesai.”
Baginya, kemajuan sebuah daerah tidak bisa sekadar dilihat dari seberapa banyak uang yang masuk, tetapi seberapa besar uang itu tinggal dan memberi dampak nyata.
“Pertumbuhan PAD dan PDRB itu ukuran produktivitas. Banyak anggaran yang datang, tapi berapa yang benar-benar memberi nilai tambah bagi masyarakat? Itu yang harus kita telaah,” tegasnya.
Di antara percakapan itu, Ridwan mengingatkan bahwa kesejahteraan tidak datang tiba-tiba. Ia menyebutnya sebagai pekerjaan panjang: memperkuat ekonomi daerah, meningkatkan pendapatan asli, dan membuka lapangan kerja yang layak bagi semua kalangan.
Namun, ada satu hal yang menurutnya menjadi kunci utama perkembangan Gorontalo ke depan: manusia.
“Kalau SDM kita kuat, daerah tumbuh. Kita harus pastikan lulusan SMA sampai perguruan tinggi semakin banyak dan kompeten. Itu fondasi masa depan Gorontalo,” katanya.
Di akhir pertemuan, Ridwan menyampaikan apresiasinya atas fokus pemerintah provinsi pada pengembangan SDM.
Ia berharap sinergi antara eksekutif dan legislatif semakin solid, bukan hanya untuk merayakan 25 tahun Gorontalo berdiri, tetapi untuk memastikan 25 tahun berikutnya berjalan lebih baik.
Perayaan HUT kali ini terasa bukan sekadar ulang tahun.
Ia menjadi ajakan untuk menengok kembali perjalanan, mengukur langkah, dan memastikan Gorontalo berjalan ke arah yang benar—dengan masyarakat sebagai pusatnya.













