Kabar

Buntut Penyiraman Air Keras, Kepala BAIS TNI Yudi Abrimantyo Mundur

×

Buntut Penyiraman Air Keras, Kepala BAIS TNI Yudi Abrimantyo Mundur

Sebarkan artikel ini
Kapuspen TNI Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah saat ditemui di Balai Media TNI, Kramat, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (17/3/2026). (Foto: KOMPAS.com)/Hibata.id
Kapuspen TNI Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah saat ditemui di Balai Media TNI, Kramat, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (17/3/2026). (Foto: KOMPAS.com)/Hibata.id

Hibata.id – Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis hak asasi manusia Andrie Yunus kini menyeret pucuk pimpinan intelijen militer.

Markas Besar TNI memastikan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) Letnan Jenderal Yudi Abrimantyo telah menyerahkan jabatannya alias mundur.

Scroll untuk baca berita

Keputusan itu menjadi sinyal serius di tengah sorotan publik terhadap penanganan kasus tersebut.

“Sebagai bentuk pertanggungjawaban hari ini telah dilaksanakan penyerahan jabatan Kabais,” kata Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasrullah di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur pada Rabu (25/3/2026).

Namun, pernyataan itu meninggalkan ruang tanya. Aulia tidak mengungkap siapa yang akan menggantikan posisi Yudi, maupun detail lebih lanjut terkait pergantian tersebut.

Baca Juga:  DPRD Gorontalo Dorong Koperasi Merah Putih Lebih Optimal, Fokus Pengelolaan Gerai

Yudi Abrimantyo sendiri baru menjabat sebagai Kabais sejak Maret 2024. Lulusan Akademi Militer 1989 itu dikenal berasal dari satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Pergantian jabatan ini tidak bisa dilepaskan dari peristiwa yang terjadi pada malam 12 Maret 2026.

Di Jalan Salemba I, Jakarta Pusat, Andrie Yunus diserang oleh dua orang tak dikenal saat mengendarai sepeda motor. Serangan berlangsung cepat, namun dampaknya sangat berat.

Cairan kimia berbahaya disiramkan ke tubuh korban. Bagian mata, wajah, dada, hingga tangan Andrie terdampak langsung. Bahkan pakaian yang dikenakan korban ikut rusak akibat sifat korosif cairan tersebut.

Baca Juga:  Dispora Provinsi Gorontalo Siap Evaluasi Logo Half Marathon Usai Tuai Kritik

Hasil medis menunjukkan Andrie mengalami luka bakar serius hingga 24 persen. Hingga kini, ia masih menjalani perawatan intensif di RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo.

Kasus ini kemudian berkembang menjadi perhatian nasional.

Dua institusi—Polri dan TNI—turun tangan melakukan penyelidikan. Namun, hasil yang muncul justru berbeda.

Polda Metro Jaya mengungkap dua terduga pelaku berinisial BHC dan MAK berdasarkan analisis forensik dan rekaman kamera pengawas.

Di sisi lain, TNI melalui Pusat Polisi Militer menyampaikan versi lain. Empat personel disebut terlibat, yakni Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES.

Keempatnya telah diamankan sejak 18 Maret 2026 dan kini menjalani proses penyidikan di lingkungan militer.

Baca Juga:  Percakapan WhatsApp Bocor, Dugaan Fee Proyek Miliaran Seret Wabub Bone Bolango?

“Mohon menunggu sampai seluruh proses penyidikan oleh penyidik dari Puspom TNI selesai dilaksanakan,” kata Aulia dalam keterangan sebelumnya.

Perbedaan temuan ini mempertebal pertanyaan publik tentang arah pengungkapan kasus.

Di tengah situasi tersebut, penyerahan jabatan Kabais menjadi babak baru yang menandai besarnya dampak kasus ini.

Kini, perhatian publik tertuju pada satu hal:
apakah proses hukum akan mampu mengungkap seluruh aktor di balik peristiwa ini—bukan hanya pelaku di lapangan, tetapi juga pihak yang berada di belakangnya.

 

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel