Hibata.id – Pemerintah Provinsi Gorontalo meningkatkan pengawasan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna memastikan kualitas layanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan sesuai standar operasional.
Pemerintah tidak segan menutup SPPG yang dinilai tidak memenuhi standar.
Hingga saat ini, Badan Gizi Nasional (BGN) tercatat telah menutup 25 SPPG di wilayah Provinsi Gorontalo karena tidak memenuhi ketentuan layanan.
Namun, penutupan tersebut belum sepenuhnya menjadi pembelajaran bagi seluruh penyelenggara.
Sejumlah SPPG masih ditemukan memberikan layanan di bawah standar yang ditetapkan.
Salah satu kasus terjadi di SPPG Dutohe Barat, Kecamatan Kabila, yang berada di bawah naungan Yayasan Mentari Gizi Indonesia.
Warga mengeluhkan keterlambatan distribusi MBG kepada siswa sekolah dasar.
Distribusi yang seharusnya dilakukan sesuai jadwal justru tidak berjalan tepat waktu.
Siswa SD yang dijadwalkan menerima MBG sekitar pukul 09.30 WITA tidak memperoleh makanan sesuai waktu yang ditentukan.
Padahal, jadwal penyaluran MBG telah diatur secara rinci, yakni untuk PAUD hingga kelas 2 SD pada pukul 08.00, kelas 3 hingga 6 SD pukul 09.30, serta tingkat SMP dan SMA pada pukul 12.00 waktu setempat.
Berdasarkan informasi yang diterima Hibata.id, SPPG dengan nomor identifikasi TMK7LKU mendistribusikan MBG pada sore hari sekitar pukul 16.00 WITA pada 8 April 2026.
Kondisi tersebut menyebabkan siswa yang telah pulang sekolah harus kembali untuk mengambil makanan.
Praktik ini dinilai tidak efektif dan menyulitkan siswa maupun orang tua.
Temuan tersebut juga diperkuat dengan tangkapan layar percakapan yang menunjukkan adanya pengakuan kesalahan teknis dari pihak SPPG.
“Iya ada kesalahan teknis tadi,” ujar salah satu petugas SPPG dalam percakapan tersebut.
Selain itu, sebuah video yang beredar memperlihatkan petugas SPPG yang masih melakukan distribusi MBG pada sore hari.
Dalam rekaman tersebut, petugas meminta siswa kembali ke sekolah untuk mengambil makanan.
“MBG SDN 6 dalam perjalanan, minta anak-anak kembali ke sekolah,” ujar petugas dalam video tersebut.
Pengelola SPPG saat dikonfirmasi menyatakan keterlambatan terjadi akibat kendala pada pemasok. Mereka menjelaskan bahan baku tempe tidak dikirim sesuai jadwal yang telah disepakati.
“Iya, benar. Keterlambatan ini karena pemasok tempe tidak mengantar pesanan tepat waktu,” kata Anggriyani Lukum kepala SPPG Dutohe Barat.
Pengelola SPPG saat dikonfirmasi menyatakan keterlambatan terjadi akibat kendala pada pihak pemasok (sublayer).
Mereka menjelaskan pemasok bahan baku tempe tidak mengirimkan bahan sesuai jadwal yang telah disepakati.
“Iya, benar. Keterlambatan ini terjadi karena pemasok tempe tidak mengantar pesanan tepat waktu,” kata Anggi.
Atas kejadian tersebut, pihak pengelola menyampaikan permohonan maaf kepada pihak yang terdampak.
Mereka juga berkomitmen untuk memperbaiki sistem distribusi agar kejadian serupa tidak terulang.
“Ke depan kami akan melakukan perbaikan agar distribusi berjalan lebih baik dan tepat waktu,” ujarnya.Anggriyani Lukum
Sementara itu, Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Provinsi Gorontalo, Zulkifli Taluhumala, menegaskan bahwa penyaluran MBG tidak seharusnya dilakukan pada sore hari.
“ Tentunya tidak bisa, tapi kemungkinan terjadi ada,” ujar Zulkifli.
Ia menjelaskan, pihaknya masih menunggu laporan resmi terkait keterlambatan distribusi tersebut sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
“Saya minta laporan dulu terkait keterlambatan,” ia menandaskan.













