Hibata.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya jadi momen ditunggu siswa, kali ini justru berubah jadi episode tambahan, setelah jam pulang sekolah.
Bagaimana tidak, saat siswa sudah rapi di rumah, sepatu sudah dilepas, bahkan ada yang mungkin lagi istirahat siang, tiba-tiba datang kabar: makanan MBG baru sampai sore hari.
Peristiwa ini terjadi di SPPG Dutohe Barat, Kecamatan Kabila. Distribusi MBG yang mestinya tiba sesuai jadwal, justru molor hingga pukul 16.00 WITA pada 8 April 2026.
Padahal, jadwal resmi sudah jelas:
- pukul 08.00 WITA untuk PAUD hingga kelas 2 SD,
- pukul 09.30 WITA untuk kelas 3 sampai 6 SD,
- dan pukul 12.00 WITA untuk SMP hingga SMA.
Namun realitanya, siswa SD yang seharusnya menikmati MBG pukul 09.30 WITA, malah harus comeback ke sekolah di sore hari.
Situasi ini membuat siswa dan orang tua berada di posisi serba tanggung. Sudah pulang, tapi harus berangkat lagi. Sudah ganti baju, tapi harus pakai sepatu lagi.
Dalam sebuah rekaman video yang beredar, terdengar petugas mengumumkan dengan nada setengah santai, setengah darurat.
“MBG SDN 6 dalam perjalanan, minta anak-anak kembali ke sekolah,” ujarnya dalam video tersebut.
Di sisi lain, percakapan internal petugas juga mengonfirmasi adanya kendala.
“Iya ada kesalahan teknis tadi,” ujar salah satu petugas SPPG.
Pengelola SPPG Dutohe Barat, Anggriyani Lukum, menjelaskan penyebabnya bukan karena niat telat, melainkan bahan baku yang ikut “ngaret” diantar.
“Iya, benar. Keterlambatan ini terjadi karena pemasok tempe tidak mengantar pesanan tepat waktu,” katanya.
Akibatnya, bukan hanya tempe yang terlambat datang, tapi juga jadwal makan siswa ikut mundur jauh dari rencana.
Meski begitu, pihak pengelola menyampaikan permohonan maaf dan berjanji akan memperbaiki sistem distribusi ke depan.
“Ke depan kami akan melakukan perbaikan agar distribusi berjalan lebih baik dan tepat waktu,” ujar Anggi.
Sementara itu, Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Provinsi Gorontalo, Zulkifli Taluhumala, menegaskan bahwa distribusi MBG di sore hari bukan skenario yang diharapkan.
“ Tentunya tidak bisa, tapi kemungkinan terjadi ada,” ujarnya.
Ia menambahkan pihaknya masih menunggu laporan resmi sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
“Saya minta laporan dulu terkait keterlambatan,” katanya.
Di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas layanan MBG, kejadian ini menjadi pengingat bahwa di lapangan, cerita bisa sedikit berbeda—bahkan kadang datang… terlambat.













