Scroll untuk baca berita
Kabar

Mengapa Bundaran Panua Jadi Lokasi Rawan Musibah?

×

Mengapa Bundaran Panua Jadi Lokasi Rawan Musibah?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Bundaran Panua, ikon publik Kabupaten Pohuwato yang kerap jadi lokasi rawan musibah. (Foto: IA/Hibata.id)
Ilustrasi Bundaran Panua, ikon publik Kabupaten Pohuwato yang kerap jadi lokasi rawan musibah. (Foto: IA/Hibata.id)

Hibata.id – Bundaran Panua, ikon publik Kabupaten Pohuwato, kembali mencatat tragedi. Kali ini, panggung utama ajang Drag Race Pohuwato roboh secara tiba-tiba di tengah berlangsungnya acara, memicu kepanikan massal di antara penonton dan peserta yang sebelumnya larut dalam euforia.

Dalam video amatir yang diunggah akun Facebook Kitty Susan, terlihat jelas detik-detik panggung ambruk tanpa tanda-tanda peringatan. Penonton yang semula antusias menyaksikan jalannya lomba mendadak berlarian menyelamatkan diri di tengah suara teriakan dan dentuman besi panggung yang runtuh.

Belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban atau penyebab pasti kejadian. Namun saksi mata menyebut tidak ada indikasi kerusakan sebelumnya. “Semua terjadi sangat cepat. Begitu struktur panggung bergeser sedikit, langsung roboh. Panitia juga terlihat panik,” ungkap salah satu penonton.

Baca Juga:  Relokasi Tiga Dusun di Pohuwato: Isu atau Kenyataan yang Disembunyikan?

Ironisnya, hingga berita ini diterbitkan, pihak penyelenggara belum memberikan pernyataan resmi, menimbulkan spekulasi di kalangan publik: apakah kejadian ini disebabkan oleh kondisi cuaca, kesalahan teknis, atau kelalaian dalam persiapan infrastruktur?

Tragedi Berulang, Evaluasi Minim

Ini bukan kali pertama musibah terjadi di Bundaran Panua. Pada 10 Juni lalu, dalam rangkaian acara Semarak Half Marathon Pohuwato, dua pegawai Bank SulutGo (BSG) Cabang Marisa tersengat listrik saat memasang umbul-umbul promosi. Amiruddin, salah satu dari mereka, meninggal di tempat. Sementara rekannya mengalami luka berat dan harus dilarikan ke rumah sakit.

Baca Juga:  PETI Dengilo Rusaki Tanah Komunal, Kapolsek Paguat Pura-pura Mati

Dua kejadian dalam rentang waktu dua bulan di tempat yang sama menimbulkan pertanyaan besar soal standar keselamatan dan kesiapan teknis dalam penyelenggaraan acara berskala besar di Pohuwato. Lokasi yang seharusnya menjadi pusat kegiatan masyarakat justru berulang kali menciptakan potensi bahaya.

Kegagalan teknis dalam penyelenggaraan acara publik, terlebih yang melibatkan ribuan massa, tidak bisa dianggap sebagai “musibah biasa”. Tanpa perhitungan teknis yang matang, pengawasan profesional, dan prosedur keselamatan yang ketat, insiden seperti ini akan terus berulang.

Baca Juga:  Kabar Gembira! Bansos PKH Tembus Rp3 Juta, Bisa Cek Nama Lewat HP

Panggung roboh di ajang Drag Race dan tragedi kesetrum di Half Marathon menjadi bukti bahwa kelalaian, bukan takdir, adalah akar dari masalah ini.

Jika pemerintah daerah dan penyelenggara tidak segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar keamanan acara publik, bukan tidak mungkin Bundaran Panua akan terus menyandang reputasi sebagai “ladang musibah”—tempat hiburan yang berulang kali berakhir petaka.

Masyarakat kini menunggu langkah konkret dari panitia penyelenggara, dinas terkait, dan pemerintah daerah. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi acara, tapi nyawa dan keselamatan warga Pohuwato.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel