Hibata.id – Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Indonesia bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan terus mendorong peran generasi muda dalam memperkuat demokrasi dan keadilan sosial. Upaya itu dilakukan melalui program Young Progressive Academy (YPA).
YPA dirancang sebagai ruang belajar strategis bagi anak muda dari berbagai daerah di Indonesia. Program ini mendorong peserta memahami persoalan sosial, politik, dan pembangunan secara kritis, sekaligus memperkuat kapasitas mereka untuk berpikir progresif dan berpihak pada kelompok rentan.
Tak sekadar forum diskusi, YPA menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan pemuda dari beragam latar belakang sosial, budaya, dan wilayah. Dengan pendekatan partisipatif, peserta diajak membedah persoalan ketimpangan struktural, ketidakadilan sosial, serta tantangan demokrasi yang masih mengemuka, terutama di daerah.
Salah satu peserta YPA asal Gorontalo dan Sulawesi Utara, Mega Mokoginta, menilai program ini penting sebagai ruang refleksi atas realitas sosial di daerah. Menurut dia, pemekaran wilayah belum sepenuhnya menjawab persoalan kemiskinan, ketimpangan, dan keterbatasan akses layanan dasar.
“Pemekaran wilayah belum menjawab ketimpangan. Banyak kelompok masyarakat, terutama perempuan dan kelompok rentan, masih berada pada posisi yang tidak setara,” kata Mega.
Melalui YPA, peserta didorong membawa isu-isu lokal ke dalam diskusi nasional. Dalam forum ini, Mega mengangkat persoalan kesetaraan gender, perlindungan korban kekerasan seksual, serta pentingnya pengarusutamaan gender sebagai strategi mengurangi kemiskinan struktural.
Proses seleksi peserta YPA berlangsung ketat. Dari 139 pendaftar, hanya 40 orang yang lolos tahap awal. Jumlah itu kemudian disaring kembali hingga terpilih 25 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka datang dari latar belakang berbeda, namun disatukan oleh komitmen terhadap keadilan sosial dan keberpihakan pada kelompok marjinal.
YPA Batch 4 digelar pada 17–20 Desember 2025 di Jakarta, lalu dilanjutkan dengan rangkaian pembelajaran daring hingga Mei 2026. Metode pembelajaran menekankan dialog kritis, refleksi pengalaman, serta kolaborasi lintas daerah untuk merumuskan gagasan perubahan yang kontekstual.
Di tengah tantangan demokrasi dan kompleksitas pembangunan nasional, YPA menjadi ruang penting bagi tumbuhnya kesadaran kritis generasi muda. Program ini tidak hanya membekali peserta dengan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan keberanian untuk bersuara dan bertindak.
Seperti refleksi yang muncul sepanjang proses pembelajaran, perubahan tidak selalu lahir dari kekuasaan, melainkan dari keberanian anak muda untuk terus berpikir, bergerak, dan memperjuangkan masa depan yang lebih adil bagi semua.















