Hinata.id – Di kawasan wisata Pohon Cinta, ikon pesisir Kota Marisa, aroma keresahan kian menyengat seperti lumpur yang menutup akar-akar mangrove. Upik, warga Desa Pohuwato Timur, sudah tak sanggup menyembunyikan kekesalannya menyaksikan vegetasi pesisir itu perlahan sekarat.
Setiap hari ia melihat mangrove yang dulu rimbun kini menguning dan mati. Ia menduga perubahan itu bukan sekadar ulah pasang surut atau curah hujan, melainkan aliran limbah berlumpur yang terbawa arus dari kawasan Sungai Tambang Bulangita.
“Air pembuangannya itu larinya ke Pohon Cinta. Tidak langsung ke laut, tapi menggenangi mangrove. Mangrove sudah banyak mati, lumpurnya terus naik,” ujar Upik saat ditemui, Jumat, 14 November 2025.
Menurutnya, penjelasan yang menyebut air pasang sebagai penyebab hanyalah dalih. Upik menilai yang merusak justru endapan lumpur yang tak pernah surut. “Biar air turun, lumpurnya tetap tinggal,” katanya, menahan amarah.
Ia mendesak pemerintah tak lagi berpangku tangan. Kerusakan yang terjadi, menurut dia, bukan lagi tanda bahaya, melainkan bukti bahwa ekosistem pesisir tengah kolaps. Upik meminta peninjauan segera sebelum situasi memburuk.
“Saya berharap pemerintah turun langsung melihat lumpur di Pohon Cinta. Ini sudah merusak lingkungan. Pemerintah harus ambil sikap,” ujarnya.
Warga juga dihantui kekhawatiran lain: bila hujan lebat datang, genangan lumpur dikhawatirkan meluber ke permukiman dan memicu banjir. “Yang kita takutkan, kalau hujan besar, pasti tergenang di sini,” tuturnya.
Hingga laporan ini diturunkan, pihak pemerintah desa belum dapat dihubungi untuk memberikan tanggapan atas keluhan warga mengenai dugaan pencemaran di kawasan Pohon Cinta.












