Scroll untuk baca berita
Kabar

Rumpon Adalah: Fungsi, Jenis, dan Cara Kerjanya bagi Nelayan

×

Rumpon Adalah: Fungsi, Jenis, dan Cara Kerjanya bagi Nelayan

Sebarkan artikel ini
Apa Itu Rumpon: Alat Bantu Penangkapan Ikan yang Inovatif/Hibata.id
Apa Itu Rumpon: Alat Bantu Penangkapan Ikan yang Inovatif/Hibata.id

Hibata.id – Rumpon menjadi salah satu inovasi penting dalam industri perikanan yang berperan besar meningkatkan efisiensi penangkapan ikan.

Alat bantu ini telah lama dimanfaatkan nelayan di berbagai negara, termasuk Indonesia, sebagai solusi untuk menemukan lokasi ikan secara lebih cepat dan hemat biaya operasional.

Scroll untuk baca berita

Dalam praktiknya, rumpon atau Fish Aggregating Device (FAD) berfungsi menarik ikan agar berkumpul di satu titik. Dengan begitu, nelayan tidak perlu lagi menghabiskan waktu dan bahan bakar untuk mencari gerombolan ikan di laut lepas.

Apa Itu Rumpon dan Bagaimana Cara Kerjanya

Rumpon merupakan struktur buatan yang dipasang di laut dan dirancang menyerupai habitat alami ikan, seperti terumbu karang atau vegetasi laut.

Dalam terminologi kelautan, rumpon kerap disebut sebagai karang buatan karena berfungsi sebagai tempat ikan berlindung, mencari makan, hingga berkembang biak.

Keberadaan rumpon menciptakan ekosistem mini di tengah laut. Mikroorganisme seperti alga dan bakteri tumbuh di permukaannya, menarik ikan kecil, yang kemudian mengundang ikan predator berukuran lebih besar.

Baca Juga:  Polda Gorontalo Gelar Shalat Ghaib untuk Driver Ojol Affan Kurniawan

Proses ini membentuk rantai makanan alami yang dimanfaatkan nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapan.

Komponen Utama Rumpon

Secara umum, rumpon tersusun atas beberapa bagian utama, yaitu:

  • Pelampung, menjaga posisi rumpon di permukaan laut

  • Atraktor, biasanya berupa daun kelapa atau bahan alami untuk memikat ikan

  • Tali penghubung, mengaitkan seluruh komponen

  • Pemberat atau jangkar, mencegah rumpon hanyut terbawa arus

Desain ini memungkinkan rumpon tetap stabil dan efektif meski berada di perairan dengan arus kuat.

Sejarah Penggunaan Rumpon di Indonesia

Penggunaan rumpon di Indonesia mulai berkembang pesat sejak era 1980-an. Teknologi ini diperkenalkan oleh nelayan asing, terutama dari Jepang dan Filipina, yang melakukan aktivitas penangkapan tuna di perairan Indonesia.

Sejumlah daerah kemudian menjadi pelopor penggunaan rumpon tradisional, antara lain Mamuju di Sulawesi, wilayah pesisir Jawa Timur, serta Cirebon di Jawa Barat.

Seiring waktu, rumpon terus mengalami inovasi, dari bahan sederhana hingga penggunaan teknologi elektronik modern.

Jenis-Jenis Rumpon

Rumpon berkembang dalam berbagai bentuk sesuai kebutuhan nelayan dan kondisi perairan, antara lain:

Berdasarkan lokasi pemasangan:

  • Rumpon perairan dangkal

  • Rumpon perairan dalam

  • Rumpon dasar laut

Berdasarkan sifat pemasangan:

  • Rumpon tetap

  • Rumpon hanyut

Berdasarkan bahan:

  • Rumpon berbahan tumbuhan

  • Rumpon non-tumbuhan

  • Rumpon campuran

Berdasarkan teknologi:

  • Rumpon tradisional

  • Rumpon modern berbasis elektronik

Salah satu inovasi terbaru adalah rumpon portabel atau eFAD yang dikembangkan peneliti IPB University. Rumpon ini berukuran lebih kecil, mudah dipindahkan, ramah lingkungan, serta dilengkapi teknologi suara dan baterai isi ulang.

Manfaat Rumpon bagi Nelayan dan Lingkungan

Penggunaan rumpon memberikan manfaat signifikan, antara lain:

Bagi nelayan:

  • Meningkatkan efisiensi waktu dan bahan bakar

  • Menambah hasil tangkapan hingga puluhan persen

  • Menekan biaya operasional

  • Memberikan titik tangkap yang lebih aman

Bagi ekosistem laut:

  • Menjadi habitat buatan bagi organisme laut

  • Mengurangi tekanan pada terumbu karang alami

  • Mendukung keanekaragaman hayati

Manfaat sosial-ekonomi:

  • Meningkatkan pendapatan nelayan

  • Mendorong wisata pancing

  • Mempercepat transfer teknologi perikanan

Tantangan dan Kontroversi

Meski efektif, penggunaan rumpon juga menimbulkan tantangan, seperti risiko penangkapan berlebihan, perubahan pola migrasi ikan, hingga konflik antar nelayan. Selain itu, rumpon yang rusak berpotensi menjadi sampah laut dan menyebabkan fenomena ghost fishing.

Karena itu, pemanfaatan rumpon perlu diimbangi dengan pengelolaan yang berkelanjutan dan pengawasan ketat.

Regulasi Rumpon di Indonesia

Pemerintah mengatur penggunaan rumpon melalui sejumlah kebijakan, antara lain:

  • Permen KP Nomor 26 Tahun 2014 tentang pengelolaan rumpon

  • Permen KP Nomor 2 Tahun 2011 tentang jalur penangkapan ikan

Setiap pemasangan rumpon wajib memiliki izin resmi, tanda pengenal, serta memenuhi ketentuan jarak dan bahan ramah lingkungan. Pelanggaran terhadap aturan dapat berujung pada sanksi administratif hingga pencabutan izin.

Rumpon menjadi solusi strategis dalam meningkatkan produktivitas perikanan nasional. Namun, pemanfaatannya harus tetap memperhatikan aspek keberlanjutan agar ekosistem laut tetap terjaga dan manfaat ekonomi dapat dirasakan nelayan dalam jangka panjang.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel