Hibata.id – Semester pertama 2025 mencatat penurunan drastis kunjungan ke Museum Gorontalo. Penyebabnya? Banyak sekolah yang absen melakukan study tour akibat efisiensi anggaran pendidikan.
Pantauan Hibata.id, museum Gorontalo sepi pengunjung layaknya kuburan. Sepanjang Januari hingga Juni 2025, hanya tercatat 3.671 orang datang.
Terdiri dari 63 wisatawan asing dan 3.608 pengunjung lokal. Angka ini nyaris separuh dari capaian tahun lalu yang melampaui 7.000 pengunjung.
“Turunnya kunjungan ini mayoritas karena sekolah-sekolah tidak lagi menggelar kunjungan edukatif. Anggaran mereka ketat, jadi kegiatan luar kelas dikurangi,” ujar Winarni Duda, Kepala Seksi Layanan Teknis UPTD Museum Gorontalo, Selasa (29/7/2025).
Padahal, lanjut Winarni, tahun sebelumnya museum ramai dikunjungi pelajar dari berbagai jenjang. Kini, kondisi berbalik. Program edukatif yang biasanya ramai di awal tahun justru mandek total.
Meski angka pengunjung merosot, pihak museum tetap memasang harapan.
“Kami optimistis bulan Agustus akan ramai, karena historinya memang jadi momen puncak kunjungan, selain Mei,” ungkapnya.

Namun, Winarni juga mengakui museum belum bisa buka di akhir pekan.
“Kendala kami ada di jumlah petugas. Sekarang hanya bisa operasional Senin sampai Jumat,” ujarnya.
Pihak museum tak tinggal diam. Perbaikan layanan, promosi digital, hingga upaya kolaborasi dengan komunitas dan sekolah terus digalakkan.
“Kami ingin masyarakat Gorontalo sadar, museum itu bukan tempat kuno, tapi ruang hidup sejarah. Penting buat generasi muda,” tegas Winarni.
Museum Gorontalo menyimpan ribuan artefak, naskah kuno, dan jejak sejarah Gorontalo. Lokasi ini selama bertahun-tahun jadi tempat favorit sekolah dan wisatawan untuk mengenal sejarah dan budaya daerah.
Dengan dukungan publik dan pemulihan anggaran pendidikan, Museum Gorontalo berharap geliat pengunjung akan kembali.
Museum juga siap jadi ruang belajar sejarah yang lebih hidup, terbuka, dan relevan dengan zaman.












