Hibata.id – Ramadhan malam hari di Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo. Lampu-lampu sederhana menerangi lapangan yang perlahan dipenuhi warga.
Di antara deretan lapak pedagang, aroma pisang matang dan kacang menyatu dengan suasana Ramadan.
Bagi masyarakat Gorontalo, suasana ini menandai Malam Qunut, sebuah tradisi yang hadir setiap 15 Ramadan dan terus bertahan dari generasi ke generasi.
Di malam pertengahan Ramadan itu, warga berkumpul di pasar malam Batudaa.
Pisang dan kacang menjadi komoditas utama yang selalu dicari masyarakat, sekaligus simbol dari tradisi yang sudah berlangsung sejak lama.
Cerita tentang Malam Qunut berawal dari kehidupan masyarakat Batudaa pada masa lampau. Saat itu, warga memiliki kebiasaan unik pada malam pertengahan Ramadan.
Setelah menunaikan salat Tarawih, masyarakat berkumpul untuk mandi bersama di tempat-tempat sumber air yang tersedia di kampung.
Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari kebiasaan menyambut pertengahan bulan puasa.
Namun, karena jumlah warga yang datang cukup banyak, mereka harus menunggu giliran.
Di sela waktu menunggu itu, warga biasanya menikmati camilan sederhana berupa pisang dan kacang.
Kebiasaan kecil itu kemudian perlahan berkembang menjadi tradisi yang lebih besar.
Tradisi Berubah, Makna Tetap Terjaga
Seiring perubahan zaman, kebiasaan mandi bersama mulai ditinggalkan. Namun, tradisi berkumpul sambil menikmati pisang dan kacang tetap dipertahankan oleh masyarakat.
Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi pasar malam yang digelar setiap pertengahan Ramadan di Batudaa.
Para pedagang datang membawa berbagai jenis pisang dan kacang. Warga pun berdatangan dari berbagai daerah di Gorontalo untuk meramaikan suasana.
Bagi masyarakat setempat, tradisi ini bukan sekadar kegiatan tahunan, tetapi juga menjadi ungkapan rasa syukur karena telah menjalani setengah perjalanan ibadah puasa Ramadan.
Hingga kini, Malam Qunut tetap menjadi salah satu tradisi yang dinanti masyarakat Gorontalo setiap Ramadan.
Lapangan Batudaa kembali dipadati warga yang ingin merasakan suasana pasar pisang dan kacang.
Warlan, warga Kota Gorontalo, mengatakan tradisi ini selalu menghadirkan suasana khas yang berbeda dari malam Ramadan lainnya.
“Kalau Ramadan tiba, kami selalu menunggu Malam Qunut. Pasar pisang dan kacang sudah menjadi bagian dari tradisi yang tidak pernah dilewatkan,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Rahmad Ali, warga Gorontalo Utara. Ia mengaku sejak kecil sudah mengenal tradisi tersebut.
“Seingat saya, setiap pertengahan Ramadan selalu ada pasar pisang dan kacang di Batudaa. Tradisi ini sudah menjadi budaya masyarakat Gorontalo,” katanya.
Bagi sebagian warga, Malam Qunut juga memiliki makna spiritual. Mereka meyakini bahwa kebersamaan dalam tradisi ini membawa keberkahan di bulan Ramadan.
Rani, salah seorang penjual pisang di lokasi pasar malam, mengatakan tradisi ini juga menjadi kesempatan untuk mempererat silaturahmi.
“Orang datang bukan hanya untuk membeli pisang atau kacang, tetapi juga untuk bertemu dan berkumpul. Suasana Ramadan terasa lebih hangat,” ujarnya.
Kini, Malam Qunut tidak hanya menjadi tradisi lokal, tetapi juga dikenal sebagai wisata religi tahunan di Gorontalo.
Di tengah perubahan zaman, masyarakat tetap menjaga tradisi ini sebagai bagian dari kearifan lokal yang memperkaya budaya Ramadan di daerah yang dikenal sebagai Serambi Madinah tersebut.












