Hibata.id – Malam perlahan turun di penghujung Ramadan. Angin berembus lembut, membawa aroma minyak tanah yang terbakar pelan.
Satu per satu, cahaya kecil mulai menyala di halaman rumah warga.
Lalu, tanpa disadari, ribuan titik cahaya itu berubah menjadi lautan lampu yang menenangkan mata dan hati.
Inilah Tumbilotohe, tradisi khas Gorontalo yang tidak sekadar menghadirkan keindahan, tetapi juga menyimpan jejak panjang perjalanan sejarah.
Jauh sebelum listrik menerangi malam, masyarakat Gorontalo sudah lebih dulu mengenal cahaya dari bahan sederhana.
Pada abad ke-15, warga menggunakan wamuta—seludang yang dibentuk runcing—lalu dibakar sebagai penerang jalan.
Mereka menyebutnya mayango, obor kecil yang menemani langkah menuju masjid di malam Ramadan.
Bayangkan suasana kala itu. Jalanan gelap, hanya diterangi barisan api kecil yang bergoyang tertiup angin.
Warga berjalan perlahan, membawa niat ibadah, dipandu cahaya yang sederhana namun penuh makna.
Waktu terus bergerak, tradisi itu pun ikut berkembang.
Masyarakat mulai mengenal damar atau tohetutu sebagai bahan bakar yang lebih tahan lama.
Cahaya menjadi lebih stabil, lebih terang. Lalu muncul padamala—lampu dari minyak kelapa dengan sumbu kapas, yang ditempatkan di wadah unik seperti tempurung kerang atau buah pepaya yang dibelah.
Setiap perubahan tidak menghilangkan makna, justru memperkuat tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kini, di era modern, minyak tanah menggantikan bahan-bahan lama. Bahkan lampu listrik ikut hadir.
Hal itu menambah warna-warni yang memikat mata. Namun, esensi Tumbilotohe tetap sama, menghadirkan cahaya sebagai simbol harapan, kebersamaan, dan penutup bulan suci.
Di Kota Gorontalo, tradisi ini berubah menjadi pemandangan yang sulit dilupakan. Ribuan lampu menyala serentak, menghiasi rumah, jalan, masjid, hingga tepian sungai.
Warga dari berbagai daerah datang berbondong-bondong, berjalan kaki, berhenti sejenak, lalu mengabadikan momen yang terasa magis.
Kemacetan pun tak terhindarkan. Jalanan penuh, suara tawa bercampur dengan langkah kaki dan gemericik malam. Namun, tak ada yang benar-benar terganggu. Semua larut dalam suasana.
“Tumbilotohe ini sudah ada sejak lama, biasanya digelar pada malam ke-27 Ramadan,” ujar Zidan Tangahu, warga Gorontalo.
Di balik gemerlapnya, ada nilai yang tetap dijaga. Warga menyalakan lampu dengan sukarela, menyediakan minyak tanah dari kantong sendiri.
Tidak ada paksaan, tidak ada aturan kaku. Hanya kesadaran bersama untuk menjaga tradisi.
Tokoh masyarakat Gorontalo, Hasdin, mengingat kembali fungsi awal tradisi ini.
“Dulu lampu itu dipasang agar orang mudah ke masjid. Jadi bukan sekadar hiasan,” katanya.
Dari penerang jalan menuju rumah ibadah, Tumbilotohe kini menjelma menjadi festival cahaya yang memikat wisatawan.
Namun, di balik kemeriahan itu, tetap tersimpan cerita lama—tentang langkah kaki di jalan gelap, tentang cahaya kecil yang menuntun, dan tentang iman yang menyala dalam diam.
Saat ribuan lampu kembali dinyalakan setiap akhir Ramadan, Gorontalo seolah mengulang kisah masa lalu—menghidupkan kembali cahaya yang tak pernah benar-benar padam.















