Hibata.id – Di tengah ramainya pilihan olahan minuman modern saat Ramadan, masyarakat Gorontalo masih menyimpan satu minuman tradisional yang rasanya tak tergantikan, yakni Omu.
Sekilas tampilannya sederhana. Namun begitu diseruput, perpaduan kelapa muda, gula aren, dan kenyalnya jelly sagu langsung menghadirkan rasa manis alami yang lembut di lidah.
Tambahan es batu membuat Omu terasa semakin menyegarkan, terutama saat azan magrib berkumandang.
Minuman ini bukan sekadar pelepas dahaga. Omu telah lama menjadi bagian dari tradisi berbuka puasa warga Gorontalo.
Racikan Alami yang Tetap Bertahan
Omu diracik dari daging kelapa muda segar yang diserut tipis. Dengan tambahan gula merah yang dibuat dari fermentasi air aren. Rasa manisnya tidak tajam, melainkan gurih dan terasa alami.
Sebagai pelengkap, jelly berbahan tepung sagu ikut dimasukkan untuk memberi tekstur kenyal yang khas.
Beberapa penjual kini menambahkan susu atau potongan buah agar tampilannya lebih variatif.
Albert, pedagang Omu di Kota Gorontalo, mengatakan kunci kenikmatan minuman ini ada pada kesegaran bahan bakunya.
“Kami selalu pakai kelapa muda segar. Terakhir baru tambah es batu supaya rasanya makin nikmat,” ujarnya.
Harga Omu pun ramah di kantong. Satu gelas dijual mulai Rp5.000 hingga Rp8.000. Tergantung variasi tambahan yang dipilih pembeli.
Sudah Ada Sejak 1950-an
Omu bukan minuman baru, Warga tanah serambi madinah mengenalnya sejak era 1957. Tepatnya pada masa Permesta, saat itu, racikannya jauh lebih sederhana—hanya kelapa muda dan gula aren.
Seiring waktu, resepnya berkembang mengikuti selera masyarakat. Meski begitu, cita rasa dasarnya tetap dipertahankan.
Sebagian warga juga meyakini Omu memiliki manfaat bagi tubuh, seperti membantu meredakan gangguan lambung dan menjaga kondisi tubuh tetap segar setelah berpuasa. Keyakinan ini diwariskan secara turun-temurun.
Mulai Tergeser Minuman Modern
Sayangnya, keberadaan Omu kini tidak semudah dulu ditemukan, terutama di pusat Kota Gorontalo. Minuman instan dan produk kekinian perlahan mengambil perhatian generasi muda.
“Sekarang orang lebih sering pilih minuman kemasan. Omu sudah tidak sebanyak dulu yang jual,” kata Albert.
Warga lainnya, Mardan, menambahkan bahwa Omu asli lebih mudah dijumpai di desa-desa yang masih mempertahankan tradisi kuliner lokal.
Layak Dicoba Saat Berkunjung ke Gorontalo
Bagi wisatawan yang datang ke Gorontalo saat Ramadan, Omu bisa menjadi pilihan takjil yang berbeda dari biasanya. Rasanya ringan, tidak berlebihan, dan menyegarkan tanpa tambahan bahan sintetis.
Menikmati Omu bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang merasakan jejak tradisi kuliner Gorontalo yang telah bertahan puluhan tahun.
Di tengah tren minuman modern, segelas Omu membuktikan bahwa kesederhanaan tetap punya tempat di hati penikmat kuliner Nusantara.













