Scroll untuk baca berita
Politik

Musda Tanpa Perebutan Kursi: Strategi Senyap PAN Gorontalo Hadapi Pemilu 2029?

×

Musda Tanpa Perebutan Kursi: Strategi Senyap PAN Gorontalo Hadapi Pemilu 2029?

Sebarkan artikel ini
Ketua DPW PAN Gorontalo, Anas Yusuf yang disampingi Sekretaris Wilayah, Femmy Udoki dan para kader lainnya/Hibata.id
Ketua DPW PAN Gorontalo, Anas Yusuf yang disampingi Sekretaris Wilayah, Femmy Udoki dan para kader lainnya/Hibata.id

Hibata.id – Partai Amanat Nasional (PAN) Gorontalo tampaknya sedang memainkan strategi jangka panjang. Alih-alih menunggu mendekati tahun politik, DPW PAN memilih mengunci barisan lebih awal—bahkan hingga ke level paling akar, kabupaten dan kota.

Momen itu dipertegas melalui Musyawarah Daerah (Musda) enam kabupaten/kota yang digelar di Kota Gorontalo, Sabtu, 29 November 2025.

Scroll untuk baca berita

Musda kali ini tidak digelar untuk kompetisi kursi pengurus seperti lazimnya tradisi partai. Tidak ada riuh perebutan posisi, tidak ada drama “kubu kiri dan kanan”.

PAN memilih jalur yang lebih tenang, konsolidasi setelah keputusan ketua DPD di enam daerah dibuat melalui musyawarah internal kader. Dengan kata lain, pertarungan sudah selesai sebelum panggung dibuka.

Baca Juga:  Talk Show PKB Gorontalo Diapresiasi Akademisi Gorontalo, Ini Kata Mereka

Ketua DPW PAN Gorontalo, Anas Yusuf, menegaskan arah strategi ini. Penataan struktur menjadi prioritas mutlak, terutama untuk memastikan kesiapan partai menghadapi agenda politik lima tahun ke depan, termasuk Pemilu 2029.

“Penunjukan ketua DPD di daerah sudah melalui kesepakatan bersama kader masing-masing. Musda ini lebih pada penguatan kebersamaan dan penyelarasan arah gerak organisasi,” kata Anas.

Ketua DPW PAN Gorontalo, Anas Yusuf yang disampingi Sekretaris Wilayah, Femmy Udoki dan para kader lainnya/Hibata.id
Ketua DPW PAN Gorontalo, Anas Yusuf yang disampingi Sekretaris Wilayah, Femmy Udoki dan para kader lainnya/Hibata.id

Sejauh ini, lima dari enam DPD PAN di Gorontalo sudah resmi mengantongi legitimasi dari DPP. Nama-nama itu bukan sekadar daftar pengurus; mereka adalah ujung tombak mesin politik di wilayah masing-masing.

Diantaranya, Syamsudin Umar di Kota Gorontalo, Hamka Pakaya di Kabupaten Gorontalo, Inday Joan Sanabe di Gorontalo Utara, Usman Mulyono di Boalemo, dan Muhammad Afif di Pohuwato.

Baca Juga:  Blusukan di Pasar Taludaa; “IRIS So Deng Torang”

Satu wilayah tersisa, Bone Bolango, masih menjadi ruang tawar. Dua nama mengemuka, dan PAN tampaknya tidak terburu-buru mengakhiri proses musyawarah.

“Kami beri ruang waktu agar prosesnya matang dan tidak menimbulkan friksi. Prinsip PAN adalah musyawarah dan kekeluargaan,” ujarnya.

Di titik ini, terbaca jelas bahwa PAN menghindari api dalam sekam. Friksi internal diabaikan, konsolidasi dijaga rapat.

PAN mau memastikan bahwa tidak ada retakan kecil yang menjadi jurang besar saat memasuki tahun politik.

Kalkulasinya lebih besar, DPP PAN menargetkan peningkatan signifikan perolehan suara pada Pemilu 2029. Dan, mau tidak mau, Gorontalo menjadi salah satu lumbung yang disasar.

Kunci lain yang disorot PAN adalah relawan TPS. Tidak cukup hanya mengatur kursi pengurus; PAN ingin struktur hingga titik paling pinggir bergerak aktif dan loyal.

Baca Juga:  Profil Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Pilkada Gorontalo Nomor Urut 1

“Setiap TPS harus terisi penuh relawan, baik untuk DPRD kabupaten/kota, DPRD provinsi, DPR RI, maupun relawan khusus pimpinan partai,” jelasnya.

PAN seperti sedang menyusun peta tempur—bukan untuk hari ini, tetapi untuk babak panjang yang baru akan berlangsung empat tahun lagi.

Musda menjadi langkah awal untuk memadatkan barisan, merapikan mesin, memastikan tidak ada baut politik yang longgar.

Apakah konsolidasi ini akan berbuah kemenangan, masih terlalu dini untuk menilai. Namun satu hal pasti: PAN tidak sedang menunggu gelombang politik datang. Partai ini mencoba menciptakan gelombangnya sendiri.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel