Hibata.id – Siswa sekolah dasar di Kecamatan Bone Pantai, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, menyampaikan keluhan terhadap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mereka terima di sekolah.
Keluhan tersebut mencuat saat Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Femmy Udoki, melaksanakan reses masa sidang kedua tahun 2025–2026 di Desa Tunas Jaya, Rabu (4/2/2025).
Dalam pertemuan itu, warga menyampaikan berbagai aspirasi desa, mulai dari kebutuhan infrastruktur hingga persoalan pertanian.
Namun, perhatian utama mengarah pada pelaksanaan program MBG yang dinilai menurun kualitasnya.
Kepala Sekolah SDN 9 Bone Pantai, Nur Ikhlas Muhamad, mengatakan banyak siswa mulai mempertanyakan menu makan siang yang disajikan karena lauk yang diterima lebih banyak tulang dibandingkan daging.
“Banyak siswa mengeluh karena lauk yang disajikan sekarang kebanyakan tulang,” ujarnya.
Nur menambahkan, anak-anak menyampaikan protes secara polos namun cukup menyentuh.
“Mereka bilang, ‘Ibu, torang cuma makan tulang?’,” katanya menirukan keluhan siswa.
Selain lauk, siswa juga menyoroti jenis buah yang dianggap kurang bervariasi. Menurut pihak sekolah, buah yang diberikan cenderung berulang, seperti pisang dan semangka.
“Kalau hanya pisang dan semangka, itu sudah biasa di Tunas Jaya. Sesekali perlu ada buah lain supaya siswa tidak bosan dan bisa mengenal jenis buah berbeda,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Femmy Udoki menyatakan akan membawa persoalan ini ke tingkat pemerintah provinsi agar kualitas program tetap sesuai tujuan awalnya.
“Saya akan serius menindaklanjuti ini. Saya akan koordinasi dengan Wakil Gubernur Gorontalo, Ibu Idah,” kata Femmy di hadapan warga.
Ia menekankan bahwa program MBG menyangkut pemenuhan gizi anak dan tidak boleh dijalankan tanpa pengawasan yang kuat.
“Saya minta dinas pendidikan dan pihak terkait lebih peka agar program ini tersalurkan dengan baik dan sesuai harapan masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Desa Tihu, Kecamatan Bone Pantai, Alwin Karim, memastikan pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap keluhan yang masuk.
“Ini akan kita evaluasi. Kalau nanti ada daging yang menyusut, kita bisa buat menu dobel,” ujar Alwin.
Ia juga menyebut pihak penyelenggara akan berupaya menambah variasi buah dalam menu makan siang siswa.
“Misalnya di sini jarang sekali anggur, sehingga nanti kita akan buat menunya ada anggur,” katanya.
Reses di Desa Tunas Jaya menjadi pengingat bahwa pelaksanaan program nasional seperti MBG harus terus diawasi agar manfaatnya benar-benar dirasakan siswa, terutama dalam mendukung tumbuh kembang dan kesehatan anak di daerah.












