Scroll untuk baca berita
Kabar

Rudianto Katili Gagal Hadirkan Direksi BSG, Massa Siapkan Aksi Jilid II

×

Rudianto Katili Gagal Hadirkan Direksi BSG, Massa Siapkan Aksi Jilid II

Sebarkan artikel ini
Mantan Ketua DPRD Kota Gorontalo sekaligus orator utama aksi ASN, Risman Taha/Hibata.id
Mantan Ketua DPRD Kota Gorontalo sekaligus orator utama aksi ASN, Risman Taha/Hibata.id

Hibata.id – Kegagalan Kepala Kantor Wilayah BSG Gorontalo, Rudianto Katili, menghadirkan jajaran direksi pusat dalam pertemuan yang sebelumnya dijanjikan memicu gelombang kemarahan publik, khususnya para tokoh yang memimpin aksi demonstrasi ASN beberapa waktu lalu.

Rudianto kembali menjadi sorotan setelah pernyataannya di hadapan ratusan ASN dan masyarakat Kota Gorontalo dipertanyakan.

Scroll untuk baca berita

Dalam orasinya saat aksi, ia secara tegas menyatakan siap mempertaruhkan jabatannya apabila tidak mampu menghadirkan direksi BSG ke Gorontalo.

“Saya bersedia hadirkan direksi, jabatan saya jadi taruhan,” ujar Rudianto di depan massa aksi, Kamis (14/11/2025).

Baca Juga:  “Run”, Ketika Cinta Ibu Berubah Jadi Obsesi Berbahaya, Tayang di Trans TV

Namun pada jadwal yang telah disepakati, direksi BSG pusat tidak hadir dan pertemuan yang disebut sangat krusial batal tanpa penjelasan resmi. Kondisi ini langsung memantik reaksi keras para pimpinan aksi.

Mantan Ketua DPRD Kota Gorontalo sekaligus orator utama aksi ASN, Risman Taha, menyebut sikap BSG sebagai pengingkaran terhadap masyarakat dan pemerintah daerah.

“BSG ternyata ingkar janji terhadap masyarakat Kota Gorontalo. Janji hari Sabtu itu hanya taktik untuk meredam gejolak,” tegas Risman.

Baca Juga:  Perekrutan CPNS 2024 Tidak Jelas, Pengumuman Kerap Berubah

Risman menyatakan pihaknya akan menempuh langkah lanjutan berupa aksi demonstrasi Jilid II dengan melibatkan ribuan peserta.

“Aksi Jilid II akan digelar hari Kamis untuk menuntut BSG mengembalikan aset bangunan dan dana penyertaan modal sebesar Rp35 miliar,” ungkapnya.

Selain menuntut penyelesaian persoalan aset, Risman juga menagih komitmen pribadi Rudianto Katili. Ia menilai janji mempertaruhkan jabatan adalah bentuk keseriusan yang kini berubah menjadi persoalan moral.

“Janji itu harus ditepati. Kegagalan menghadirkan direksi membuktikan ketidakmampuan memediasi. Komitmen mempertaruhkan jabatan harus dipertanggungjawabkan,” lanjutnya.

Baca Juga:  Diduga Ada Penyalahgunaan BBM Subsidi, Soni Samoe Ngamuk di SPBU Paguat: Minta Polres Turun Tangan

Desakan agar Rudianto mundur dari jabatan semakin menguat, baik di internal Pemkot maupun di kalangan masyarakat.

Massa aksi menilai persoalan ini bukan sekadar soal absennya direksi, tetapi runtuhnya kepercayaan terhadap pimpinan BSG di daerah.

Dengan aksi Jilid II berada di ambang pelaksanaan, tensi antara BSG dan Pemerintah Kota Gorontalo diperkirakan meningkat dan membuka kemungkinan terjadinya konflik yang lebih luas apabila tidak segera diselesaikan.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel