Scroll untuk baca berita
Kabar

Sapi Bantuan Dilaporkan Mati, Ini Klarifikasi Resmi Pemprov Gorontalo

×

Sapi Bantuan Dilaporkan Mati, Ini Klarifikasi Resmi Pemprov Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Ai - Sapi Kurus dan Sakit/Hibata.id
Ilustrasi Ai - Sapi Kurus dan Sakit/Hibata.id

Hibata.id – Program bantuan sapi untuk masyarakat di Provinsi Gorontalo yang semestinya membawa harapan bagi peternak, kini menjadi perhatian.

Hal itu setelah muncul laporan sejumlah sapi bantuan terlihat kurus, sakit, bahkan dilaporkan mati.

Informasi ini semakin menguat ketika DPRD Provinsi Gorontalo dalam rapat Komisi II mengungkap adanya keluhan masyarakat penerima bantuan.

Kondisi sapi yang tidak sesuai harapan dinilai dapat merugikan peternak yang telah lama menunggu program tersebut terealisasi.

Anggota Komisi II DPRD Provinsi Gorontalo, Limonu Hippy, menyampaikan bahwa pihaknya menemukan indikasi ketidaksesuaian kualitas sapi bantuan dengan spesifikasi yang seharusnya.

“Pengadaan sapi ini memang sudah terealisasi, tetapi kami menemukan indikasi bahwa sapi yang disalurkan tidak sesuai spesifikasi. Kondisinya kurus, bahkan sangat kurus,” ujar Limonu.

Baca Juga:  PETI Popayato Terus Beroperasi Meski Warga Alami Krisis Air Bersih, APH Ikut Nikmati Hasil?

Tak hanya soal fisik ternak yang lemah, laporan masyarakat juga menyebut adanya gangguan kesehatan yang muncul dalam waktu singkat setelah sapi diterima.

“Ada sapi yang belum sampai satu minggu sudah sakit, tidak mau makan, mengalami luka-luka, bahkan mengeluarkan darah di bagian mata,” katanya.

Klarifikasi Dinas

Dinas Peternakan dan Perkebunan Provinsi Gorontalo akhirnya angkat bicara. Mereka memastikan bahwa sapi bantuan yang disalurkan sebenarnya telah melalui prosedur kesehatan sesuai ketentuan.

Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Provinsi Gorontalo, Ramdan Pade, pada Jumat (30/01/2026) menjelaskan bahwa pihaknya telah turun langsung ke lapangan untuk menindaklanjuti laporan yang berkembang.

“Sapi yang disalurkan sudah memiliki sertifikat kesehatan, sertifikat veteriner, serta hasil uji laboratorium dan dinyatakan sehat pada saat disalurkan,” ujar Ramdan.

Baca Juga:  328 Honorer di Gorontalo Terancam Gagal Jadi PPPK karena Tidak Masuk Database BKN

Hasil pemeriksaan di lapangan, kata Ramdan, menunjukkan bahwa sapi yang tampak kurus dan mengalami kesulitan makan terindikasi terkena penyakit Baliziekte.

Ia menjelaskan bahwa Baliziekte merupakan penyakit tidak menular yang kerap menyerang sapi akibat keracunan tanaman tertentu yang mengandung racun lantadine.

“Gejalanya berupa luka meradang, rasa gatal yang membuat sapi sering menggaruk tubuhnya, serta penurunan berat badan. Ini bukan penyakit menular, tetapi berkaitan dengan pakan dan lingkungan,” jelasnya.

Ramdan pun mengingatkan para peternak penerima bantuan agar tidak langsung menggembalakan sapi yang baru diterima, melainkan mengandangkannya terlebih dahulu agar kondisi ternak lebih mudah dipantau.

Baca Juga:  Polres Banggai Ajak Pelajar Jauhi Kenakalan Remaja Lewat Police Goes To School

“Kami berharap sapi yang baru diterima tidak langsung digembalakan. Sebaiknya dikandangkan dulu agar pakannya terkontrol dan kondisinya bisa diawasi,” katanya.

Selain itu, ia meminta masyarakat untuk segera melapor jika menemukan tanda-tanda perubahan kondisi pada sapi bantuan, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

“Jika ada perubahan kondisi pada sapi, segera laporkan kepada petugas lapangan agar bisa segera ditangani,” tegas Ramdan.

Sementara itu, DPRD mendorong pemerintah daerah agar memberikan solusi yang adil bagi peternak yang merasa dirugikan serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses pengadaan bantuan ternak, agar program serupa benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel