Hibata.id – Sayur pakis, atau paku-pakuan liar yang tumbuh subur di hutan dan tepian sungai, kini semakin populer sebagai kuliner tradisional yang diminati masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung ke Gorontalo.
Tanaman pakis dikenal kaya serat dan nutrisi. Di daerah yang dijuluki Serambi Madinah, sayuran hijau ini mudah dijumpai terutama saat musim hujan.
Ragam olahannya pun bervariasi, mulai dari tumis pakis, gulai santan, hingga campuran sup tradisional khas Gorontalo.
Hidangan berbahan dasar pakis bukan hanya menjadi menu harian masyarakat lokal, tetapi juga daya tarik kuliner bagi wisatawan.
“Sayur pakis itu segar sekali, apalagi dimasak dengan bawang putih dan cabai. Rasanya khas dan berbeda dari sayuran lain,” kata Rina, wisatawan asal Makassar saat ditemui di Desa Dulupi, Kabupaten Boalemo, Minggu (17/8).
Warga setempat menyebut pakis mudah ditemukan di perbukitan dan sepanjang aliran sungai yang masih alami. Selain dikonsumsi sendiri, sebagian warga memanfaatkannya sebagai sumber penghasilan musiman.
“Kalau musim hujan, pakis banyak sekali. Tinggal petik di kebun belakang atau pinggir sungai,” ujar Harun, warga Desa Taludaa, Kabupaten Bone Bolango.
Menurut Harun, pakis menjadi sayur harian keluarga dan dijual di pasar tradisional. Namun, saat musim kemarau, tanaman ini sulit tumbuh karena habitat alaminya mengering.
Sayur pakis memiliki nilai gizi tinggi, mulai dari serat, vitamin, hingga mineral, yang baik untuk menjaga kesehatan tubuh.
Potensi ini membuat banyak pegiat kuliner mendorong pelestarian pakis agar bisa dibudidayakan secara organik, sekaligus dipromosikan sebagai bagian dari kekayaan kuliner Nusantara.
“Pakis punya nilai gizi yang baik untuk kesehatan. Kalau dibudidayakan secara organik, manfaatnya akan lebih besar bagi masyarakat,” kata Husain, pegiat kuliner Gorontalo.












